Manajemen Kelas Berperan Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa

Peningkatan mutu pendidikan akan tercapai apabila proses belajar  mengajar  yang diselenggarakan di kelas benar-benar efektif, efisien dan berguna untuk mencapai kemampuan, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diharapkan. Salah satu faktor penentu keberhasilan dalam belajar dan pembelajaran adalah manajemen kelas yang efektif dan efisien, karena proses pembelajaran lebih dominan dilakukan di dalam kelas. Oleh karena itu peran guru sangat berpengaruh dalam manajemen kelas, dengan manajemen kelas yang baik maka akan berdampak pada prestasi siswa yang baik pula. Karena pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan inti/hal yang pokok dari proses pendidikan secara keseluruhan, di antaranya guru merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan berhasilnya proses belajar mengajar di dalam kelas. Oleh karena itu guru dituntut untuk meningkatkan peran dan kompetensinya, guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif, efisien dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang maksimal.

Menurut Nizar, Samsul (2002:41) salah satu unsur penting dari proses kependidikan adalah pendidik. Di pundak pendidik terdapat tanggung jawab yang amat besar dalam upaya mengantarkan peserta didik ke arah tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan culture transition yang bersifat dinamis ke arah suatu perubahan secara kontinyu, sebagai sarana vital bagi membangun kebudayaan dan peradaban umat manusia. Dalam hal ini, pendidik bertanggung jawab memenuhi kebutuhan peserta didik, baik spiritual, intelektual, moral estetika maupun kebutuhan fisik peserta didik.

Yamin, Martinis dan Maisah (2009:103-113) mengemukakan peranan guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut: (a) guru sebagai sumber belajar, (b) guru sebagai pendidik, (c) guru sebagai pembelajar, (d) guru sebagai pembimbing, (e) guru sebagai pelatih, (f) guru sebagai penasehat, (g) guru sebagai agen pembaharu, (h) guru sebagai model dan teladan.

Dalam kondisi nyata di sekolah sering dijumpai guru-guru yang dapat dikatakan kurang berhasil dalam mengajar. Indikator belum berhasilnya guru adalah prestasi belajar yang rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan. Kegagalan guru ini mungkin bukan hanya kurang menguasai materi bidang studinya, tetapi karena mereka tidak tahu atau belum mampu memanajemen kelas. Pembaharuan pendidikan yang mulai digalakkan beberapa puluh tahun yang lalu menyebabkan timbulnya usaha-usaha pemikiran diberbagai bidang pendidikan, seperti pembaharuan kurikulum, pembaharuan metode mengajar, pembaharuan administrasi pendidikan, pembaharuan media pendidikan, pembaharuan sistem supervisi dan sebagainya. Adanya pembaharuan ini telah menimbulkan perubahan bahan ukuran baik-buruk perihal kegiatan guru, kegiatan siswa, suasana kelas dan sebagainya.

Peranan guru sebagai manajer dalam kegiatan belajar di kelas sudah lama diakui sebagai salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Guru sebagai tenaga profesional, dituntut tidak hanya mampu mengelola pembelajaran saja tetapi juga harus mampu mengelola dan mengatur kelas, yaitu menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal(maksimal) bagi tercapainya tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.

Manajemen kelas tidak hanya berupa pengaturan kelas, fasilitas fisik dan rutinitas. Kegiatan manajemen kelas dimaksudkan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana dan kondisi kelas. Sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Misalnya memberi penguatan, mengembangkan hubungan guru dengan siswa dan membuat aturan kelompok yang produktif. Menurut Semiawan, Cony (1990:63) untuk menciptakan suasana yang dapat menumbuhkan gairah belajar, meningkatkan prestasi belajar siswa, dan lebih memungkinkan guru memberikan bimbingan dan bantuan terhadap siswa dalam belajar, maka diperlukan pengorganisasian kelas yang memadai. Adapun menurut Usman (2003:97) pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif. Pengelolaan/manajemen dipandang sebagai salah satu aspek penyelenggaraan sistem pembelajaran yang mendasar, di antara sekian macam tugas guru di dalam kelas.

Fungsi manajemen kelas sangat mendasar sekali karena kegiatan guru dalam manajemen kelas meliputi kegiatan mengelola tingkah laku siswa dalam kelas, menciptakan iklim sosio emosional dan mengelola proses kelompok, sehingga keberhasilan guru dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan, indikatornya proses belajar mengajar berlangsung secara efektif. Oleh karena itu sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu di semua jenjang pendidikan, penerapan strategi manajemen kelas dalam pembelajaran merupakan salah satu alternatif yang diyakini dapat digunakan untuk memecahkan persoalan yang mendasar dari permasalahan pendidikan yang ada serta dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

DAFTAR RUJUKAN

Nizar, Samsul. 2002.  Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers

Semiawan, Cony. 1990. Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: Gramedia

Usman, M.U. 2003. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Yamin, Martinis dan Maisah. 2009. Manajemen Pembelajaran Kelas. Jakarta:GP Press.

Peraturan Mengindeks dan Memberi Kode Nama Orang, dibedakan atas:

  1. Peraturan mengindeks nama orang Indonesia
a.1. Nama Tunggal, yaitu nama yang terdiri dari satu kata diindeks sebagai mana nama itu ditulis.
 
a.2. Nama Ganda, adalah nama yang terdiri dari lebih satu kata diindeks berdasarkan nama akhir.
 
a.3. Nama keluarga, suku dan marga.
Nama orang yang diikuti nama keluarga (Jawa), atau nama suku/marga/kaum (Minang, Batak, dll) diindeks berdasarkan nama keluarga, suku, marga, dll
 
a.4. Nama yang memakai singkatan di depan atau di belakang
 
a.5. Nama yang memakai gelar kebangsawanan, keagamaan, kesarjanaan dan kepangkatan.
 
a.6. Nama orang Indonesia dengan urutan  kelahiran (orang Bali) diutamakan nama diri, diikuti urutan kelahiran dan gelar kalau ada.
 
a.7. Nama yang didahului nama Baptis, maka yang diindeks adalah nama aslinya.
 
a.8. Nama wanita yang diikuti nama suami, keluarga suami,atau nama orang tuanya termasuk nama yang memakai tanda hubung diutamakan nama suami, keluarga suami atau nama keluarganya.
 
a.9. Nama yang memakai kata bin, binti, dan al. Diindeks menjadi satu nama dalam satu unit.
 
a.10. Nama orang yang masih memakai ejaan lama, diindeks berdasarkan nama dalam ejaan tersebut dan diberi Lembar penunjuk silang untuk melihat nama dalam ejaan baru
 

 

  1. Peraturan mengindeks nama orang asing, yang dibedakan atas :
b.1. Nama orang Barat, Jepang, India, Korea dan sejenisnya, diindeks berdasarkan nama keluarga dan biasanya terdapat setelah nama asli.
 
b.2. Nama orang Eropa yang memakai tanda penghubung, diindeks sebagai satu kata.
 
b.3. Nama ketiga (surname) orang barat yang diikuti dengan Prefiks (awalan) Seperti : A, D, Del, Dela, Des, L, Le, Mc, St, Fitzs, dll.
 
b.4. Nama orang Cina dan Korea. Diindeks tetap nama keluarga, karena nama keluarga berada di depan nama
 

 

Pelaksanaan Strategi Manajemen Kelas Dalam Pembelajaran Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa

Istilah strategi sudah tidak asing di telinga kita, menurut Fathurrohman, Pupuh dan M. Sobry Sutikno (2007:3) secara bahasa, strategi bisa diartikan sebagai ’siasat’, ’kiat’,’trik’, atau ’cara’. Sedang secara umum strategi ialah suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Menurut Sanjaya, Wina (2007:126) dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sedangkan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal adalah dinamakan dengan metode. Strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Menurut Sanjaya, Wina (2007:128) strategi juga dapat diartikan istilah, teknik dan taktik mengajar. Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode. Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Sedangkan mengenai bagaimana menjalankan strategi, dapat ditetapkan berbagai metode pembelajaran. Dalam upaya menjalankan metode pembelajaran guru dapat menentukan teknik yang dianggapnya relevan dengan metode, dan penggunaan teknik guru memiliki taktik yang mungkin berbeda antara guru yang satu dengan guru yang lain.
Mengacu pada konteks belajar mengajar bahwa strategi adalah teknik atau siasat yang digunakan guru dan dipraktekkan oleh guru dan siswa dalam berbagai peristiwa pembelajaran untuk mewujudkan tujuan pembelajaran agar lebih efektif dan efisien. Selanjutnya untuk memahami tentang manajemen kelas secara mendalam maka akan dikemukakan beberapa pendapat dari para ahli diantaranya:
a. Hadari Nawawi
Kegiatan manajemen atau pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah, sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid.
b. Burhanuddin
Manajemen/pengelolaan kelas merupakan proses upaya yang dilakukan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi yang kondusif dan optimal bagi terselenggaranya kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien.
c. Berdasarkan Konsepsi Lama Dan Modern
Menurut konsepsi lama, manajemen kelas diartikan sebagai upaya mempertahankan ketertiban kelas. Menurut konsepsi modern manajemen kelas adalah proses seleksi yang menggunakan alat yang tetap terhadap problem dan situasi manajemen kelas (Lois V. Jhonson dan Mary Bany, 1970)
Dari beberapa pengertian strategi dan manajemen kelas diatas, maka strategi manajemen kelas dapat diartikan sebagai “pola siasat, cara, teknik, atau langkah-langkah yang digunakan guru dalam menciptakan, menimbulkan dan mempertahankan kondisi kelas tetap kondusif, agar siswa dapat belajar maksimal, aktif, dan menyenangkan dengan efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan”.
Guru mempunyai tanggung jawab yang vital selama proses belajar mengajar berlangsung. Mulai dari lingkungan fisik sampai pada suasana belajar di kelas. Kelas yang diorganisasi dengan baik dan dikelola secara efektif dan efisien merupakan pokok yang esensial bagi terselenggaranya suatu program instruksional yang baik dan terciptanya suatu iklim saling menghormati dan memperdulikan antar siswa, serta antara siswa dengan guru. Maka dari itu seorang guru yang profesional seharusnya mempunyai kompetensi yang baik dalam bidang manajemen kelas, karena dengan manajemen kelas yang baik akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa yang baik juga.
Dalam manajemen/pengelolaan kelas oleh guru dalam proses belajar mengajar ada beberapa strategi dalam meningkatkan prestasi siswa yang bisa diimplementasikan oleh guru, diantaranya yaitu:
a. Pengelolaan lingkungan kelas
Menurut Majid, Abdul (2006:167) iklim kelas yang kondusif merupakan pertimbangan utama dan memberikan daya tarik tersendiri bagi proses pembelajaran. Iklim belajar kondusif harus ditunjang oleh beberapa fasilitas yang menyenangkan demi kelancaran proses belajar mengajar. Seperti sarana, penataan ruang kelas, laboratorium untuk praktik, pengaturan lingkungan belajar, penampilan dan sikap guru, hubungan yang harmonis antar siswa sendiri, serta penataan organisasi dan bahan pembelajaran secara tepat sesuai dengan kemampuan siswa.
Iklim kelas yang positif dan kondusif juga dapat di ciptakan dengan pembinaan disiplin yang lebih didasarkan pada responsibilitas daripada ”punishment (hukuman)”, sehingga siswa dapat mandiri. Hubungan antara guru dan murid yang efektif diwarnai oleh perilaku-perilaku guru spesifik, yang dilakukan dengan cara:
1) Membangkitkan peraturan, prosedur-prosedur, dan konsekuensi yang jelas bagi perilaku siswa
2) Merumuskan tujuan-tujuan pembelajaran yang jelas, misalkan mengkomunikasikan tujuan pembelajaran pada permulaan bab pengajaran.
3) Memperlihatkan perilaku asertif (tegas) dalam hal penggunaan nada suara yang tepat berbicara secara jelas dan tidak terlalu melengking, penggunaan bahasa tubuh guru yang tegap dengan menjaga jarak terhadap anak yang nakal, guru dengan tegas menunggu respon atau ungkapan siswa.
4) Menciptakan kerjasama antara guru dan siswa dengan memberikan tujuan-tujuan pembelajaran yang fleksibel kepada siswa.
5) Menarik minat peribadi dalam diri siswa dengan cara berbicara secara informal dengan siswa.
6) Mempergunakan interaksi-interaksi kelas dengan siswa secara positif dan merata, dengan cara berkontak mata dengan siswa dengan memandang keseluruh kelas.
Hubungan antara guru dengan siswa memberikan suatu pokok yang esensial bagi manajemen kelas yang efektif dan merupakan kunci ke peraihan prestasi belajar siswa yang tinggi. Terciptanya hubungan-hubungan yang positif akan membawa suasana yang menyenangkan bagi siswa dalam belajar, sehingga terciptanya iklim yang kondusif.
b. Penerapan Strategi pembelajaran
Untuk menciptakan iklim pembelajaran yang menyenangkan dan siswa antusias dalam mengikuti pelajaran, seorang guru harus mampu menerapkan komponen strategi pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai secara maksimal. Dalam meningkatkan prestasi/hasil belajar dalam bentuk dampak Instruksional dan untuk mengarahkan dampak pengiring terhadap hal-hal yang positif, guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang efektif dan menerapkan strategi pembelajaran. Menurut Ametambun (2004:5) upaya peningkatan kualitas belajar mengajar dapat ditempuh dengan strategi-strategi berikut ini:
a.) Strategi seluruh kelas yang meliputi:
1) Ceramah adalah memberikan pengetahuan secara verbal dengan cara guru mempresentasikan sejumlah informasi luas secara efisien, yang berfungsi untuk memberikan pengetahuan dasar yang dibutuhkan untuk aktivitas-aktivitas mendatang, mempresentasikan suatu pengetahuan penting bagi siswa untuk dipelajari
2) Diskusi, memfokuskan pada interaksi, yang mana siswa sebagai partisipan dipersilahkan mengekspresikan pengetahuan dan pemahaman serta opini/pendapat tentang suatu topik.
3) Debat adalah strategi yang menghendaki berpikir lebih tingkat tinggi, yang mana siswa mempelajari informasi tentang suatu isu atau ide dengan mengambil posisi pro atau kontra. Sehingga siswa harus belajar mendengarkan, memanipulasi pengetahuan untuk menarik baik kebutuhan-kebutuhan faktual maupun emosional pada audience-nya.
4) Demonstrasi guru merupakan strategi guru menempatkan perannya untuk memberikan pengetahuan atau keterampilan dengan mendemonstrasikan suatu metode. Strategi ini dipilih karena keterbatasan waktu dan kelangkaan bahan yang diperlukan.
5) Memberikan pengarahan-pengarahan adalah memberikan informasi yang efisien tentang apa, mengapa, bagaimana, dimana, kapan tugas dan aktivitas kelas.

b.) Strategi-strategi kelompok kecil yang meliputi:
1) Pembelajaran kooperatif adalah formasi kelompok yang ”menshare” suatu pembelajaran yang sama, bekerja independen untuk mencapai suatu penguasaan, dan memastikan bahwa semua anggota kelompok dapat meraih tujuan kelompok secara sukses
2) Pembelajararan kolaboratif adalah pembelajaran yang menghendaki para siswa bekerja bersama tetapi hasilnya lebih terbuka pada umumnya. Responsibilitas individual bagi pembelajaran ini lebih besar ketimbang dalam situasi kooperatif.

c.) Strategi pembelajaran dengan bekerja berpasangan, dengan membentuk:
1) Mentor-mentor siswa yaitu membentuk pasangan-pasangan siswa dengan keterampilan yang tak sama, dengan menempatkan salah satu siswa yang sudah siap untuk mentutor teman pasangan .
2) Berpasangan secara random (acak) digunakan dalam suatu basis jangka pendek sebab hanya berpikir sejenak, untuk memenuhi kebutuhan siswa atau memenuhi tuntutan tugas .

d.) Strategi pembelajaran dengan bekerja secara individu
Yaitu strategi dengan bekerja secara independen oleh siswa dalam mempelajari keterampilan atau pengetahuan dan mepraktikkan serta memastikan tingkat pemahamannya Guru harus cerdas memilih dan menggunakan metode pembelajaran atau dengan mengkombinasikan dari beberapa metode yang sesuai dengan kondisi yang ada.
c. Penerapan strategi berupa pendekatan dalam manajemen kelas.
Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian berikut:
1. Pendekatan Kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada siswa untuk mentaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itu guru mendekatinya.
2. Pendekatan Ancaman
Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku siswa dilakukan dengan cara memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
3. Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan diartikan secara suatu proses untuk membantu siswa agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan siswa.
4. Pendekatan Resep
Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.
5. Pendekatan Pengajaran
Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku siswa, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku siswa yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.
6. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku siswa. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku siswa yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (behavior modification approach) ini bertolak dari sudut pandangan psikologi behavioral. Program atau kegiatan yang yang mengakibatkan timbulnya tingkah laku yang kurang baik, harus diusahakan menghindarinya sebagai penguatan negatif yang pada suatu saat akan hilang dari tingkah laku siswa atau guru yang menjadi anggota kelasnya. Untuk itu, menurut pendekatan tingkah laku yang baik atau positif harus dirangsang dengan memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan senang atau puas. Sebaliknya, tingkah laku yang kurang baik dalam melaksanakan program kelas diberi sanksi atau hukuman yang akan menimbulkan perasaan tidak puas dan pada gilirannya tingkah laku tersebut akan dihindari.
7. Pendekatan Sosio-Emosional
Pendekatan sosio-emosional akan tercapai secarta maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dan siswa serta hubungan antar siswa. Didalam hal ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut. Oleh karena itu seharusnya guru mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi di kelas. Untuk terciptanya hubungan guru dengan siswa yang positif, sikap mengerti dan sikap ngayomi atau sikap melindungi.
8. Pendekatan Kerja Kelompok
Dalam pendekatan ini, peran guru adalah mendorong perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolaan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok yang produktif, dan selain itu guru harus pula dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik. Untuk menjaga kondisi kelas tersebut guru harus dapat mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan.
9. Pendekatan Elektis atau Pluralistik
Pendekatan elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreatifitas, dan inisiatif wali atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengkombinasikan dan atau ketiga pendekatan tersebut. Pendekatan elektis disebut juga pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan efisien. Guru memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan selama maksud dan penggunaannnya untuk pengelolaan kelas disini adalah suatu set (rumpun) kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien.

DAFTAR RUJUKAN
Ametembun, N.A. 2004. Sistem Manajemen Kelas-Kelas Modern Jilid II – Manajemen PerilakuMurid. Bandung: Suri
Majid, Abdul. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Remeja Rosdakarya.
Fathurrohman, Pupuh dan M. Sobry Sutikno. 2007. Strategi Belajar Mengajar . Bandung: PT. Refika Aditama
Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana

Komponen-Komponen Manajemen Mutu Terpadu

  • Komponen-komponen MMTP mempunyai 10 unsur utama (Goetsch & Davis, 1994) sebagai berikut :
  1. Fokus Pada Pelanggan

Dalam MMTP, baik pelanggan Internal maupun pelanggan eksternal merupakan driver. Pelanggan eksternal menentukan kualitas produk atau jasa yang disampaikan kepada mereka, sedangkan pelanggan internal berperan besar dalam menentukan kualitas manusia, proses, dan lingkungan yang berhubungan dengan produk atau jasa.

Pembentukan Fokus Pada Pelanggan

Karakteristik perusahaan yang sukses dalam membentuk fokus pads pelanggan adalah sebagai berikut(Whitely dalam Goetsh dan Davis,1994,pp. 149-150):

  1. Visi, komitmen, dan Suasana.

Organisasi memiliki visi dan komitman besar terhadap kepuasan pelanggan, dan kebutuhan pelanggan lebihb diutamakan daripada kebutuhan internal organisasi. Salah satu cara menunjukkan komitmen ini adalah menjadikan fokus pada pelanggan sebagai faktor utama dalam pertimbangan kenaikan pangkat (promosi) atau kompensasi.

  1. Penjajaran dan Pelanggan.

Perusahaan yang bersifat customer-driven menyejajarkan dirinya dengan para pelanggan.Hal ini tercermin dalam beberapa hal berikut:

  • Pelanggan berperan sebagai penasihat dalam pelayanan
  • Pelanggan tidak pernah dijanjikan sesuatu yang lebih dari pada yang diberikan
  • Karyawan memahami atribut produk yang paling dihargai pelanggan
  • Masukan dan umpan balik dari pelanggan dimasukkan dalam proses pengembangan produk
  1. Kemauan untuk mengidentifikasi dan mengatasi permasalahan pelanggan

Tercermin dalam hal :

  • Keluhan pelanggan dipantau dan dianalisis
  • Selalu mengupayakan adanya umpan balik dari pelanggan
  • Organisasi  berusaha mengidentifikasi dan meghilangkan proses, prosedur, dan sistem internal yang tidak menciptakan nilai bagi pelanggan.
  1. Memanfaatkan informasi dari pelanggan

Adanya suatu informasi dari pelanggan tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga menggunakan dan menyampaikannya kepada semua pihak yang membutuhkannya kepada semua pihak yang membutuhkan dalam rangka melakukan perbaikan, diman pemanfaatan informasi pelanggan seperti ini :

  • Semua karyawan memahami bagaimana pelanggan menentukan kualitas
  • Karyawan pada semua level diberi kesempatan untuk bertemu dengan pelanggan
  • Karyawan mengetahui siapa yang menjadi “pelanggan sesungguhnya”
  • Perusahaan memberikan informasi yang membantu terciptanya harapan yang realistis kepada para pelanggan.prinsip dasarnya adalah “jadikan apa yang bisa diberikan, tapi berikan lebih dari yang dijanjikan
  • Karyawan dan manajer memahami kebutuhan dan harapan pelanggan
  1. Mendekati para pelanggan

Dalam pendekatan TQM, tidaklah cukup bila suatu perusahaan hanya pasif dan menunggu umpan balik yang disampaikan oleh para pelanggannya. Pasar global yang kompetitif menuntut pendekatan yang lebih aktif. Mendekati pelanggan berarti melakukan hal-hal berikut:

  • Memudahkan para pelanggan untuk menjalankan bisnis
  • Berusaha untuk mengatasi semua keluhan pelanggan
  • Memudahkan semua pelanggan dalam menyampaikan keluhannya, misalnya lewat surat, telepon, atau datang langsung
  1. Kemampuan, kesanggupan, dan pemberdayaan karyawan

Para karyawan diperlukan sebagai profesional yang memiliki kemampuan, dan diberdayakan untuk menggunakan pertimbangan sendiri dalam melakukan hal-hal yang dianggap perlu dalam rangka memuaskan kebutuhan pelanggan. Hal ini berarti setiap karyawan memahami betul-betul produk yang mereka tawarkan dan kebutuhan pelanggan yang berkaitan dengan produk tersebut. Ini juga berarti bahwa karyawan diberi sumber daya dan dukungan yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan.

  1. Penyempurnaan produk dan proses secara terus-menerus

Perusahaan yang bersifat customer-driven melakukan setiap tindakan yang diperlukan untuk secara terus-menerus memperbaiki produk dan proses yang menghasilkan produk tersebut. Pendekatan ini diwujudkan dalam hal:

  • Kelompok fungsional internal bekerja sama untuk mencapai sasaran bersama,
  • Praktik-praktik bisnis terbaik dipelajari dan dilaksanakan,
  • Waktu siklus riset dan pengembangan secara terus-menerus dikurangi,
  • Setiap masalah diatasi dengan segera,
  • Investasi dalam pengembangan ide-ide inovatif dilakukan.

Ketujuh karakteristik tersebut dapat digunakan sebagai pedoman dalam membentuk fokus pada pelanggan. Pada tahap awal setiap perusahaan perlu melakukan analisis diri. Dalam analisis ini akan dapat ditentukan karakteristik mana yang sudah dan belum ada dalam organisasi. Perusahaan perlu mewujudkan karakteristik yang belum ada tersebut sehingga fokus pada pelanggan dapat terbentuk.

2. Obsesi terhadap Kualitas

Dalam organisasi yang menerapkan MMTP, pelanggan eksternal dan internal yang  menentukan mutu. Dengan mutu tersebut, organisasi harus terobsesi untuk memenuhi yang diinginkan pelanggan yang berarti bahwa semua karyawan berusaha melaksanakan setiap aspek pekerjaannya. Apabila suatu organisasi terobsesi dengan mutu maka berlaku prinsip good enough is never  good enough.

3. Pendekatan Ilmiah

Pendekatan ilmiah sangat diperlukan dalam penerapan TQM, terutama untuk mendesain pekerjaan dalam proses pengambilan keputusan dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan yang didesain tersebut. Dengan demikian data diperlukan dan dipergunakan dalam menyusun patok duga (benchmark), memantau prestasi, dan melaksanakan perbaikan.

Langkah untuk melaksanakan pendekatan ilmiah dalam TQM :

  1. Mengumpulkan data yang berarti

Data yang berarti adalah data yang bebas dari kesalahan pengukuran atau prosedur

  1. Mengidentifikasi sumber penyebab suatu masalah
  2. Mengembangkan dan menghasilkan solusi yang tepat
  3. Merencanakan dan melakukan perubahan

4. Komitmen Jangka Panjang

MMTP merupakan paradigma baru, maka dari itu dibutuhkan budaya sekolah yang baru pula. Dan untuk membentuk budaya sekolah yang baru itu diperlukan adanya komitmen jangka panjang agar penerapan MMTP dapat berjalan dengan baik.

5. Kerja Sama Tim (Team Work)

Dalam organisasi yang menerapkan TQM, kerja sama tim, kemitraan dan hubungan dijalin dan dibina, baik anatr karyawan perusahaan maupun dengan pemasok, lembaga-lembaga pemerintah, dan masyarakat sekitarnya.

Faktor-faktor yang mendasari perlunya dibentuk kerja TIM dalm suatu organisasi, adalah :

  • Pemikiran dari 2 orang atau lebih cenderung lebih baik daripaada pemikiran satu orang saja.
  • Konsep sinergi [1+1>2], yaitu bahwa hasil keseluruhan (tim) lebih baik daripada jumlah bagiannya(anggota individual).
  • Anggota tim dapat saling mengenal dan saling percaya, sehingga mereka dapat saling membantu.
  • Kerjasama tim dapat menyebabkan komunikasi terbina dengan baik.

Kunci keberhasilan kerjasama TIM,antara lain :

  • Saling ketergantungan
  • Perluasan tugas
  • Penjajaran
  • Bahasa yang umum
  • Kepercayaan
  • Kepemimpinan/keanakbuahan yang dibagi rata
  • Keterampilan pemecahan masalah
  • Keterampilan menangani konfrontasi / konflik
  • Penilaian/tindakan
  • Perayaan
  • 7. Perbaikan Sistem Secara Terus Menerus

Setiap produk memanfaatkan proses tertentu dalam suatu sistem, sehingga sistem yang ada perlu diperbaiki secara terus menerus agar mutu dapat meningkat.

Manajemen mutu terpadu adalah sebuah pendekatan praktis, namun strategis, dalam organisasi yang memfokuskan diri pada kebutuhan pelanggan dan kliennya. Tujuannya adalah untuk mencari hasil yang lebih baik. MMT bukan merupakan kumpulan slogan, namun merupakan suatu pendekatan sistematis dan hati-hati untuk mencapai tingkatan kualitas yang tepat dengan cara yang konsisten dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. MMT dapat dipahami sebagai filosofi perbaikan tanpa henti hingga tujuan organisasi dapat dicapai dan dengan melibatkan segenap komponen dalam organisasi

Sebagai sebuah pendekatan, MMT mencari sebuah perubahan permanen dalam sebuah tujuan organisasi, dari tujuan “kelayakan” jangka pendek menuju tujuan “perbaikan mutu” jangka panjang. Institusi yang melakukan inovasi secara konstan, melakukan perbaikan dan perubahan secara terarah, dan mempraktekan MMT, akan mengalami siklus perbaikan secara terus menerus. Semangat tersebut akan menciptakan sebuah upaya sadar untuk menganalisa apa yang sedang dikerjakan dan merencanakan perbaikannya..

Pelaksanaan perbaikan proses berkesinambungan, meliputi :

  • Penentuan masalah dan pemecahan yang memungkinkan
  • Pemulihan dan implementasi pemecahan yang paling efektif dan efisian
  • Evaluasi ulang, standarisasi, dan pengulangan proses.

Aktivitas perbaikan berkesinambungan :

  • Komunikasi
  • Memperbaiki masalah yang nyata/jelas
  • Memandang ke hulu
  • Mendokumentasi kemajuan dan masalah
  • Memantau perubahan
  • 8.Pendidikan dan Pelatihan

Sekolah yang menerapkan MMTP, pendidikan dan pelatihan merupakan faktor yang mendasar, karena dengan pendidikan dan pelatihan setiap guru dan staf tata usaha akan meningkatkan keterampilan teknisnya.

9. Kebabasan yang Terkendali

Kebabasan yang timbul karena keterlibatan pemberdayaan guru dan staf merupakan hasil pengendalian yang terencana, misalnya keterlibatan dan pemberdayaan guru dan staf tata usaha dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan tersebut akan dapat meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat serta  dapat memperkaya wawasan dan pandangan dalam suatu keputusan.

10. Kesatuan Tujuan

Agar MMTP dapat diterapkan dengan baik maka sekolah harus memiliki kesatuan yang jelas. Dengan demikian semua usaha dapat diarahkan pada tujuan yang sama. Meski begitu, dalm kesatuan tujuan tidak berarti harus selalu ada persetujuan antara pihak kepala sekolah dengan guru dan staf tata usaha mengenai upah dan kondisi kerja.

  1. Adanya Keterlibatan dan Pemberdayaan Guru dan Staf Tata Usaha

Keterlibatan guru dan staf tata usaha merupakan hal penting dalam memerpkan MMT.

Manfaat dari keterlibatan guru dan staf, adalah :

  1. Dapat menghasilkan keputusan yang baik dan perbaikan yang lebih efektif karena mencakup pandangan dan pemikiran dari pihak yang langsung berhubungan dengan situasi kerja.
  2. Meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab atas keputusan dengan melibatkan orang yang harus melaksanakan.

Dan untuk menciptakan kultur perbaikan terus menerus, seorang manejer harus mempercayai stafnya dan mendelegasikan keputusan pada tingkatan-tingkatan yang tepat. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan staff sebuah tanggungjawab untuk menyampaikan mutu dalam lingkungan mereka. Staf membutuhkan kebebasan kerja dalam keranagka kerja yang sudah jelas dan tujuan organisasi sudah diketahui.

DAFTAR PUSTAKA

Sallis, Edward. 2008. Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan. Surabaya: Herman Press

Tjiptono, F. & Diana, A. 2003. Total Quality Manajemen. Yogyakarta: Penerbit Andi

Usman, Husaini. 2009. Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

“PENERAPAN MANAJEMEN HUMAS DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT”

Keberhasilan serta kesuksesan suatu pendidikan melibatkan faktor internal dan eksternal, diantara faktor tersebut yaitu lingkungan keluarga dan atau masyarakat sekitar lingkungan sekolah. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, sekolah, keluarga dan masyarakat. Ini berarti mengisyaratkan bahwa orang tua murid/wali murid dan masyarakat mempunyai tanggung jawab untuk berpartisipasi, turut memikirkan dan memberikan bantuan baik material maupun moril dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah agar tercapai tujuan pendidikan secara maksimal.

Bentuk dukungan bisa bermacam-macam dan sangat situasional tergantung kepada bantuan seperti apa yang dibutuhkan oleh sekolah. Partisipasi dan keikutsertaan yang tinggi dari orang tua murid dalam pendidikan di sekolah merupakan salah satu ciri dari pengelolaan sekolah yang baik, artinya sejauh mana masyarakat dapat berpartisipasi dalam proses pendidikan di sekolah adalah indikator terhadap manajemen humas sekolah yang bersangkutan.

Tingkat partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan di sekolah memberikan pengaruh yang positif bagi kemajuan sekolah, kualitas pelayanan pembelajaran di sekolah yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kemajuan dan prestasi belajar anak-anak di sekolah. Oleh karena itu,  untuk lebih memaksimalkan tujuan pendidikan yang ingin dicapai, diperlukan adanya hubungan antara sekolah dengan masyarakat yang baik.

Undang-Undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 pasal 54 menjelaskan bahwa peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. Sejalan dengan konsep undang-undang, pemerintah menyerukan dan menekankan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua dan masyarakat. Karena itu sekolah harus mengerti dan melaksanakan serta berupaya untuk meningkatkan peran serta masyarakat untuk bersama-sama menanggung pendidikan guna memaksimalkan pencapaian tujuan pendidikan. Dengan ini diharapkan masyarakat akan semakin antusias dan berkompetisi untuk meningkatkan mutu pendidikan ketingkat yang lebih tinggi.

Lingkungan pendidikan merupakan sebuah sistem, jadi saling berkaitan antara satu sub sistem dengan sub sistem lainnya dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat luas. Sekolah sebagai sistem terbuka yang selalu mengadakan hubungan (kerja sama) yang baik dengan masyarakat, secara bersama-sama membangun pendidikan. Hal ini sangat mungkin, sebab dalam era globalisasi dengan perkembangan teknologi modern yang sangat pesat seperti sekarang ini, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan menjadi modal utama dalam membangun dan memajukan bangsa termasuk masyarakat itu sendiri.

Kegiatan humas didalam suatu lembaga pendidikan tidak hanya meliputi hubungan sekolah dengan orang tua siswa saja, akan tetapi menjalin hubungan dengan masyarakat luas, seperti menjalin relasi dengan masyarakat sekitarnya, sekolah lain, serta instansi pemerintah. Karena dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan membutuhkan jalinan komunikasi secara menyeluruh dengan semua lapisan masyarakat, supaya keberadaan sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat diterima ditengah-tengah masyarakat dan pelaksanaan kegiatannya berjalan dengan efektif dan efisien.

Mulyasa (2005:50) mengungkapkan bahwa, “Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan secara efektif dan efisien.” Memang tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat dan sekolah mempunyai keterkaitan dan saling berperan satu sama lain. Apalagi sekarang ini, pemerintah telah mensosialisasikan adanya kebijakan desentralisasi pendidikan dimana sekolah mempunyai hak untuk mengatur sekolahnya sendiri agar tujuan pendidikan bisa tercapai secara maksimal. Oleh sebab itu, sebaiknya sekolah dalam mengatur kegiatan humasnya berusaha menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga lain di luar sekolah dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat sehingga tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

Fungsi humas di Sekolah hendaknya dijalankan dengan baik, agar program kerja manajemen humas bisa terlaksana dengan baik. Beberapa kegiatan sekolah yang melibatkan masyarakat sekitar dan atau wali murid, dan adanya program sekolah yang berhubungan dengan ke Humasan sehingga ada partisipasi wali murid dalam usaha untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan maksimal, hal ini ditunjukkan dengan antusiasme wali murid yang berperan aktif dalam proses pemajuan sekolah. Selain itu dengan adanya fungsi humas menyebabkan keeksistensian sekolah tersebut diketahui oleh lingkungan masyarakat dalam lingkup yang lebih luas. Dalam kegiatan humas tersebut melakukan fungsinya melalui media berupa televisi, radio dan lain-lain. Topik yang dijadikan/diangkat adalah: (1) inovasi pendidikan; (2) Prestasi yang diraih Sekolah; (3) Aktivitas pembelajaran yang ada di Sekolah; (4) Bentuk simpati dan empati Sekolah terhadap suatu permasalahan yang sedang booming.

 

Daftar Rujukan:

 

Basuki, Markus. 2009. Manajemen Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat. Malang: (No. 09370013/MKPP – Program Pasca Sarjana UMM 2009)

Basuki, Rokhmat. Strategi Hubungan Masyarakat Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan di MTs Nurul Huda Malang. (Malang 2007). Skripsi

Mulyasa. 2005. Manajemen berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

 

INOVASI PENDIDIKAN

Inovasi               pembaruan atau perubahan dengan ditandai oleh  adanya hal yang baru.

Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada istilah invention dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru artinya hasil karya manuasia. Discovery adalah penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya. Dengan demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery. Dalam kaitan ini Ibrahim (1989) mengatakan bahwa inovasi adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat).

Inovasi pada dasarnya merupakan  pemikiran cemerlang yang bercirikan hal baru ataupun berupa praktik-praktik tertentu ataupun berupa produk dari suatu hasil olah-pikir dan olah-teknologi  yang diterapkan melalui tahapan tertentu yang diyakini dan dimaksudkan untuk memecahkan persoalan yang timbul dan memperbaiki suatu kedaan tertentu ataupun proses tertentu yang terjadi di masyarakat.

Maka Inovasi pendidikan adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi dunia pendidkan. Contoh bidangnya adalah Managerial, Teknologi, manajemen pendidikan, metodologi pengajaran, media, sumber belajar, pelatihan guru, implementasi  kurikulum. Inovasi pendidikan merupakan perubahan pendidikan yang didasarkan atas usaha-usaha sadar, terencana, berpola dalam pendidikan yang bertujuan untuk mengarahkan sesuai dengan kebutuhan yang dihadapi dan tuntutan zaman. Dalam bidang pendidikan, misalnya, untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi, telah  banyak dilontarkan model-model inovasi dalam berbagai bidang antara lain : usaha pemerataan pendidikan,  peningkatan mutu, peningkatan efisiensi dan efektifitas pendidikan, dan relevansi pendidikan.

 

Identifikasi Kompetensi Profesi Supervisor (Pengawas) Pendidikan

Supervisor adalah orang yang melakukan kegiatan supervisi. Banyak ahli menjelaskan pengertian dari supervisi, diantaranya:

ü  “Supervisi adalah apa yang dikerjakan personil sekolah dengan orang-orang dan barang-barang untuk penjagaan atau pengubahan pelaksanaan sekolah agar dapat mempengaruhi langsung pencapaian tujuan pokok pengajaran sekolah”( Ben Harris & Wailand Bessent, 1969: 11)

ü  “Secara tradisional, supervisi dimasukkan bagian dari tanggung jawab penyempurnaan pengajaran. Selama kita memegang pandangan ini, kita menambahkan tekanan pada tanggung jawab pengajaran ini untuk semua tujuan sekolah yang dicapai melalui atau bergantung pada organisasi manusia di sekolah”(Thomas Segiovanni & Robert Starret, 1971:3)

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah menegaskan bahwa seorang pengawas harus memiliki 6 (enam) kompetensi minimal, yaitu kompetensi kepribadian, supervisi manajerial, supervisi akademik, evaluasi pendidikan, penelitian dan pengembangan serta kompetensi sosial. Setiap dimensi kompetensi memiliki sub-sub sebagai kompetensi dasar yang harus dimiliki seorang pengawas. Secara rinci kompetensi-kompetensi dasar tersebut adalah sebagai berikut:

A. Dimensi Kompetensi Kepribadian

Memiliki tanggungjawab sebagai pengawas satuan pendidikan. Kreatif dalam bekerja dan memecahkan masalah baik yang berkaitan kehidupan pribadinya maupun tugas-tugas jabatannya. Memiliki rasa ingin tahu akan hal-hal yang baru tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang menunjang tugas pokok dan tanggung jawabnya. Menumbuhkan motivasi kerja pada dirinya dan pada stakeholder pendidikan.

B. Dimensi Kompetensi Supervisi Manajerial

Menguasai metode, teknik dan prinsip-prinsip supervisi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Menyusun program kepengawasan berdasarkan visi, misi, tujuan dan program pendidikan di sekolah. Menyusun metode kerja dan instrumen yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi pengawasan di sekolah. Menyusun laporan hasil-hasil pengawasan dan menindaklanjutinya untuk perbaikan program pengawasan berikutnya di sekolah. Membina kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi satuan pendidikan berdasarkan manajemen peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Membina kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan bimbingan konseling di sekolah. Mendorong guru dan kepala sekolah dalam merefleksikan hasil-hasil yang dicapainya untuk menemukan kelebihan dan kekurangan dalam melaksanakan tugas pokoknya di sekolah. Memantau pelaksanaan standar nasional pendidikan dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala sekolah dalam mempersiapkan akreditasi sekolah.

C. Dimensi Kompetensi Supervisi Akademik

Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah. Memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah. Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP. Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/ teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa melalui bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah. Membimbing guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah. Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/ bimbingan (di kelas, laboratorium, dan/atau di lapangan) untuk mengembangkan potensi siswa pada tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah. Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/ bimbingan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah. Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk pembelajaran/ bimbingan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah.

D. Kompetensi Evaluasi Pendidikan

Menyusun kriteria dan indikator keberhasilan pendidikan dalam bidang pengembangan di TK/RA dan pembelajaran/bimbingan di sekolah/madrasah. Membimbing guru dalam menentukan aspek-aspek yang penting dinilai dalam pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah. Menilai kinerja kepala sekolah, guru, dan staf sekolah dalam melaksanakan tugas pokok dan tanggung jawabnya untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah. Memantau pelaksanaan pembelajaran/bimbingan dan hasil belajar siswa serta menganalisisnya untuk perbaikan mutu pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/ madrasah. Membina guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan di TK/RA atau mata pelajaran di sekolah/madrasah. Mengolah dan menganalisis data hasil penilaian kinerja kepala sekolah/madrasah, kinerja guru, dan staf sekolah/madrasah.

E. Dimensi Kompetensi Penelitian dan Pengembangan

Menguasai berbagai pendekatan, jenis, dan metode penelitian dalam pendidikan. Menentukan masalah kepengawasan yang penting diteliti baik untuk keperluan tugas pengawasan maupun untuk pengembangan karirnya sebagai pengawas. Menyusun proposal penelitian pendidikan baik proposal penelitian kualitatif maupun penelitian kuantitatif. Melaksanakan penelitian pendidikan untuk pemecahan masalah pendidikan, dan perumusan kebijakan pendidikan yang bermanfaat bagi tugas pokok tanggung jawabnya. Mengolah dan menganalisis data hasil penelitian pendidikan baik data kualitatif maupun data kuantitatif. Menulis karya tulis ilmiah (PTS) dalam bidang pendidikan dan atau bidang kepengawasan dan memanfaatkannya untuk perbaikan mutu pendidikan. Menyusun pedoman/panduan dan/atau buku/modul yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pengawasan di sekolah/madrasah. Memberikan bimbingan kepada guru tentang penelitian tindakan kelas, baik perencanaan maupun pelaksanaannya di sekolah/madrasah.

F. Dimensi Kompetensi Sosial

Bekerjasama dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan kualitas diri untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Sehingga seorang pengaawas harus mampu bersosialisasi dengan baik.

Kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh supervisor dapat juga disebutkan sebagai berikut :

1.Mampu melakukan supervisi sesuai prosedur dan teknik-teknik yang tepat

2.Mampu melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan program pendidikan sesuai dengan  prosedur yang tepat

3.Memahami dan menghayati arti, tujuan dan teknik supervisi

4.Menyusun program supervisi pendidikan

5.Melaksanakan program supervisi pendidikan

6.Memanfaatkan hasil-hasil supervisi

7.Melaksanakan umpan balik dari hasil supervisi

Jon Wiles dan Joseph Bondi dalam buku Supervision: A guide to Practice, mengemukakan ada delapan bidang keterampilan khusus yang merupakan bidang kompetensi bagi para supervisor, yaitu :

a)         Supervisor adalah orang yang mengembangkan manusia

b)        Supervisor adalah Pengembang Kurikulum => karena supervisor bekerja langsung dengan guru-guru mengenai problem-problem pengajaran, mereka mempunyai kesempatan yang paling baik untuk mempengaruhi perkembangan kurikulum.

c)         Supervisor adalah spesialis pengajaran =>membantu guru kelas menjadi berpengetahuan, bergabung dengan dan diantara para guru menyampaikan ide-ide baru, pergi ke kelas mendemonstrasikan mengajar.

d)        Supervisor adalah Pekerja hubungan Manusia => kebanyakan kerja supervisor adalah informasi dan dari orang ke orang; apakah supervisor bekerja dengan guru-guru secara individual maupun kelompok, dengan staf pengajar dan staf administratif.

e)         Supervisor adalah pengembang staf

f)         Supervisor adalah administrator => sikap sebagaimana ada dalam keterampilan-keterampilan administrasi.

g)        Supervisor adalah pemimpin perubahan

h)        Supervisor adalah penilai => peranan-peranan yang telah dikemukakan di muka secara kolektif menempatkan supervisor suatu posisi penilai tetap. Menilai penampilan guru, pencapaian program, bahan-bahan pengajaran dan buku teks, dan menganalisa hasil tes kesemuanya adalah bagian dari peranan evaluasi.

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah

Wijono. 1989. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta: P2LPTK

Fungsi, Tujuan, serta Tugas Humas di Lembaga Pendidikan

Berfungsi tidaknya humas dalam sebuah organisasi dapat diketahui dari ada tidaknya kegiatan yang dilaksanakan dalam suatu lembaga. Mengenai konsep fungsional humas, Scott M. Cutlip dan Allen Center (Effendy Onong, 2002:34) memberikan penjelasan sebagai berikut:

a. Memudahkan dan menjamin arus opini yang bersifat mewakili dari publik-publik suatu organisasi, sehingga kebijaksanaan dan operasionalisasi organisasi dapat dipelihara keserasiannya dengan ragam kebutuhan dan pandangan publik-publik tersebut

b. Menasehati manajemen mengenai jalan dan cara menyusun kebijaksanaan dan operasionalisasi organisasi untuk dapat diterima secara maksimal oleh publik

c.  Merencanakan dan melaksanakan program-program yang dapat menimbulkan penafsiran yang menyenangkan terhadap kebijaksanaan dan operasionalisasi organisasi.

            Hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Dalam hal ini sekolah merupakan bagian yang integral dari sistem sosial yang lebih besar, yaitu masyarakat. Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah, oleh karena itu hubungan sekolah dengan masyarakat harus dibina suatu hubungan yang harmonis.

Menurut Purwanto, Ngalim (1993:189-190) Secara kongkrit lagi, tujuan diselenggarakan hubungan sekolah dan masyarakat adalah:

a. Mengenalkan pentingnya sekolah bagi masyarakat.

b. Mendapatkan dukungan dan bantuan morel maupun finansial yang

diperlukan bagi pengembangan sekolah.

c. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang isi dan pelaksanaan

program sekolah.

d. Memperkaya dan memperluas program sekolah sesuai dengan

perkembangan dan kebutuhan masyarakat.

e. Mengembangkan kerja sama yang lebih erat antara keluarga dan sekolah

dalam mendidik anak-anak.

Menurut Nawawi, Hadari (1988:73) Tugas-tugas pokok atau beban kerja humas suatu organisai atau lembaga dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Memberikan informasi dan menyampikan ide (gagasan) kepada masyarakat atau pihak-pihak yang membutuhkannya. Menyebarluaskan informasi dan gagasan-gagasan itu agar diketahui maksud atau tujuannya sertakegiatankegiatannya termasuk kemungkinan dipetik manfaatnya oleh pihak-pihak diluar organisasi.

2. Membantu pimpinan yang karena tugas-tugasnya tidak dapat langsung memberikan informasi kepada masyarakat atau pihak-pihak yang memerlukannya.

3. Membantu pimpinan mempersiapkan bahan-bahan tentang permasalahan dan informasi yang akan disampaikan atau yang menarik perhatian masyarakat pada saat tertentu. Dengan demikian pimpinan selalu siap dalam memberikan bahan-bahan informasi yang up-to-date.

4. Membantu pimpinan dalam mengembagkan rencana dan kegiatan-kegiatan lanjutan yang berhubungan dengan pelayanan kepada masyarakat (Publicservice) sebagai akibat dari komunikasi timbal balik dengan pihak luar, yang  ternyata menumbuhkan harapan atau penyempurnaan policy atau kegiatan yang telah dilakukan oleh organisasi.

 

Daftar Rujukan

 

Effendy, Onong Uchjana. 2002. Hubungan Masyarakat Suatu Studi komunikologis . Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Nawawi, Hadari. 2005. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada Press

Purwanto, Ngalim. 1993. Administrasi dan Supervisi Pendidikan Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

 

Dampak Strategi Manajemen Kelas Dalam Pembelajaran Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa

Setiap strategi yang dipilih dan digunakan membawa dampak terhadap pencapaian hasil yang diharapkan. Menurut Sudirman (1987:92), dalam pemilihan metode mengajar harus mengandung dampak langsung (Instuctional effects atau tujuan instruksional) dan dampak penyerta/pengiring (nurturant effects atau tujuan pengiring). Pendekatan dan strategi pengelolaan kelas sebagai bagian dari proses dalam kegiatan belajar mengajar memiliki efek atau dampak terhadap peningkatan prestasi belajar, baik dampak langsung maupun dampak tidak langsung.

Prestasi/keberhasilan belajar ini bukanlah semata-mata keberhasilan dari segi kognitif dan psikomotorik saja, akan tetapi juga memperhatikan aspek-aspek lain, seperti aspek afektif. Pengevaluasian satu aspek saja akan menyebabkan pengajaran kurang memiliki makna yang bersifat komprehensif. Ketiga aspek ini merupakan unsur-unsur pendukung hasil/prestasi belajar. Dikatakan terdiri dari berbagai aspek pendukung, sebab kalau kita kembalikan pada istilah pendidikan itu sendiri sangatlah kompleks, yaitu meliputi seluruh pembahasan tingkah laku, baik cita, rasa, dan karsa. Berikut akan dijelaskan lebih rinci mengenai dampak strategi manajemen kelas dalam pembelajaran untuk meningkatkan prestasi belajar siswa:

a. Dampak Langsung (Instuctional effects atau Tujuan Instruksional)

Menurut Sudirman (1987:94) dampak langsung adalah tujuan yang secara langsung akan dicapai melalui pelaksanaan program pengajaran (satuan pelajaran) yang dilaksanakan guru setelah selesai suatu pertemuan peristiwa belajar mengajar. Hasil yang akan dicapai biasanya berkenaan dengan Cognitive Domain (pengetahuan) dan psycho-motor domain (keterampilan). Kedua domain ini bisa diukur secara kongkrit, pasti, dan karenanya dapat langsung dicapai ketika itu.

Hasil yang dirumuskan dalam tujuan instruksional dan ingin dicapai melalui proses belajar-mengajar (pertemuan), tidaklah dapat dicapai seluruhnya secara langsung dan dapat diukur dengan mudah, karena hasilnya tidak selalu dalam bentuk yang nyata dan secara pasti

dapat dinyatakan telah dimiliki (dikuasai) siswa sepenuhnya. Akan tetapi hasil belajar itu ada yang bersifat konkrit dan secara pasti dapat dinyatakan telah dimiliki (dikuasai) siswa.

Dalam kegiatan belajar mengajar guru menggunakan strategi-strategi dalam menciptakan dan mempertahankan kelas agar kondisi tetap kondusif dan menyenangkan. Hal ini merupakan suatu upaya guru dalam meningkatkan hasil/prestasi belajar siswa dan akan memberikan efek langsung terhadap keberhasilan belajar siswa yang berkenaan dengan pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotorik).

1.) Tipe Prestasi Belajar Bidang Kognitif

Tingkatan-tingkatan tipe hasil belajar bidang kognitif mencakup: (a) Pengetahuan (knowlage): Pengetahuan ini mencakup aspek-aspek faktual dan ingatan (sesuatu hal yang harus diingat kembali); (b) Pemahaman (comprehention): Pemahaman memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti dari suatu konsep; (c) Penerapan (Aplikasi): Tipe prestasi belajar ini merupakan kesanggupan menerapkan dan mengabstraksikan suatu konsep, ide, rumus, hukum, dalam situasi yang baru;  (d) Analisis: Tipe prestasi belajar analisis merupakan kesanggupan memecahkan, menguraikan suatu integritas menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang mempunyai arti. Analisis merupakan tipe prestasi belajar yang kompleks, yang memanfaatkan unsur tipe hasil belajar sebelumnya, yakni pengetahuan, pemahaman dan aplikasi; (e) Sintesis: Sintesis merupakan lawan analisis. sintesis adalah kesanggupan menyatukan unsur-unsur atau baian menjadi satu integritas. Sintesis juga memerlukan hafalan, pemahaman, aplikasi dan analisis. Melalui sintesis dan analisis maka berpikir kreatif untuk menemukan sesuatu yang baru (inovatif) akan mudah dikembangkan; (f) Evaluasi: Kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan judgmen yang dimiliki dan kriteria yang digunakannya. Tipe prestasi belajar evaluasi tekanannya pada pertimbangan pada sesuatu nilai, mengenai baik tidaknya, tepat tidaknya, dengan menggunakan kriteria tertentu. Untuk melakukan evaluasi diperlukan pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis dan sintesis.

2.) Tipe Prestasi Belajar Bidang Psikomotorik

`      Tipe prestasi ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill), dan kemampuan bertindak seseorang. Adapun tingkatannya Menurut Sudirman (1987:88) meliputi: (a) Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang sering tidak disadari karena sudah merupakan kekuasaan); (b) Keterampilan ada gerakan-gerakan dasar; (c) Kemampuan perspektual termasuk didalamnya membedakan visual, membedakan auditif, motorik, dan lain-lain; (d) Kemampuan dibidang fisik: kekuatan, keharmonisan, dan ketepatan; (e) Gerakan-gerakan yang berkaitan dengan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks; (f) Kemampuan yang berkenaan dengan non decursive komunikasi seperti gerakan ekspresif dan interpretatif.

b. Dampak penyerta/pengiring (nurturant effects atau tujuan pengiring)

Dampak pengiring adalah hasil pengajaran yang sebaiknya dirumuskan agar lebih jelas dan terarah dalam program pengajaran (satpel) karena hasil ini tidak perlu langsung dicapai ketika selesai suatu pertemuan peristiwa belajar mengajar, tetapi diharapkan hasilnya

akan berpengaruh kepada siswa dan akan mengiringi atau menyertai belakangan, mungkin masih memerlukan waktu atau tahapan-tahapan pertemuan peristiwa belajar mengajar selanjutnya. Biasanya dampak pengiring ini berkenaan dengan effective domain (sikap dan nilai).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dampak pengiring itu berupa hasil yang tidak langsung diukur dan tidak pasti dicapai ketika berakhirnya suatu pertemuan peristiwa belajar mengajar. Hasil itu dapat berupa: (1) sikap dan nilai; (2) hasil dimana siswa menjadi modelling (dapat meniru), contagion (tertulari), osmosis (dirembesi) tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari kondisi belajar, baik yang diprogram oleh guru maupun yang tidak diprogram oleh guru.

Hasil dalam bentuk abstrak dan sulit sekali secara pasti dinyatakan langsung dimiliki (dikuasai) siswa setelah berakhirnya suatu pertemuan. Namun yakin akan mempengaruhi atau ada hasilnya pada siswa, baik sebagian maupun seluruhnya menyertai atau mengikuti hasil (tujuan) yang langsung dicapai ketika itu (dampak langsung), mungkin juga masih memerlukan waktu atau beberapa pertemuan peristiwa belajar mengajar selanjutnya untuk lebih memantapkan hasilnya, itu sebabnya hasilnya disebut dampak pengiring.

Strategi-strategi yang dilakukan, sebagai upaya guru dalam meningkatkan keberhasilan belajar dalam pembelajaran juga memberikan dampak yang menyertai dan mengiringi hasil/prestasi belajar, walaupun hal itu melalui waktu dan tahapan tertentu. Dampak tidak langsung yang ingin dicapai itu berkenaan dengan prestasi sikap dan nilai (afektif). Ada kecenderungan bahwa prestasi belajar bidang afektif kurang mendapat perhatian dari guru. Para guru cenderung lebih memperhatikan atau tekanan pada bidang kognitif semata. Tipe prestasi belajar bidang afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti atensi atau perhatian terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman, kebiasaan belajar, dan lain-lain. Meskipun bahan pelajaran berisikan bidang kognitif, tetapi bidang afektif harus menjadi bagian integral dari bahan tersebut, dan harus tampak dalam proses belajar dan prestasi belajar yang dicapai. Tingkatan bidang afektif sebagai tujuan dan tipe prestasi belajar mencakup: (1) Receiving atau attending

Yakni kepekaan dalam menerima rangsangan dari luar yang datang pada siswa, baik dalam bentuk masalah, situasi, dan gejala; (2) Responding atau jawaban Yakni reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulus yang datang dari luar; (3) Valuing (penilaian) Yakni berkenaan dengan penilaian dan kepercayaan tarhadap gejala atau stimulus; (4) Organisasi Yakni pengembangan nilai ke dalam suatu sistem organisasi, termasuk menentukan hubungan suatu nilai dengan nilai lain dan kemantapan, priorita nilai dimilikinya; (5) Karakterstik internalisasi nilai Yakni keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan perilakunya.

Tipe-tipe prestasi belajar seperti yang dikemukakan di atas tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berhubungan satu sama lain. Dalam proses belajar-mengajar di sekolah misalnya, seorang siswa secara kognitif dalam mata pelajaran bahasa inggris baik/bagus, tetapi dalam segi afektif dan psikomotor kurang baik, sehingga banyak diantara mereka yang tidak bisa mempraktikkan/bicara menggunakan bahasa inggris secara baik. Dalam pengelolaan kelas akan tampak peraturan dan tata tertib sebagai faktor penunjang dalam proses pembelajaran. Namun demikian kondisi tertib yang ditanamkan hendaknya diusahakan agar merupakan  langkah yang diterima oleh siswa. Dengan adanya pengembangan potensi-potensi yang ada di dalam kelas dan dilingkungan sekolah, maka akan tercipta situasi kelas dan sekolah yang kondusif. Menurut Carrol bahwa semua anak mampu belajar dan juga mau belajar, memang pada dasarnya kemampuan anak berbeda, tetapi apabila kepada mereka diberi layanan yang sesuai dengan keadaan masing-masing, maka hasilnya akan sama. Benjamin S. Bloom menanggapi pendapat ini dengan pentingnya penciptaan suasana kelas untuk memenuhi kondisi belajar yang kondusif. Dari titik tolak kedua pendapat ini dapat disimpulkan bahwa kondisi belajar merupakan sesuatu yang sangat penting dan menentukan keberhasilan belajar anak.

Dalam proses pembelajaran yang ada di sekolah, keadaan dan suasana kelas, maupun lingkungan masyarakat sekolah mempunyai kedudukan penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran dan berpengaruh pada prestasi belajar siswa. Manajemen kelas menjadi bagian manajemen pendidikan di sekolah. Tanpa adanya penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, pemanfaatan sarana secara maksimal, menjaga keterlibatan siswa, dan penguasaan kelas dalam penyampaian materi, maka pembelajaran tidak dapat terlaksana secara efektif dan efisian. Hal ini yang akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa.

 

IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS) STRATEGIK DALAM PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN

Oleh :

Windha Yulyana (091714024)

Abstrak

Kualitas pendidikan harus senantiasa ditingkatkan, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah strategik. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui implementasi manajemen berbasis sekolah strategik dalam peningkatan kualitas pendidikan di sekolah. Metode penulisan menggunakan metode library research (studi pustaka). Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan manajemen berbasis sekolah strategik merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.

Kata kunci: manajemen strategik, manajemen berbasis sekolah strategik, kualitas pendidikan

            Pembahasan mengenai pendidikan, memang tidak ada habisnya. Pendidikan di Indonesia mengalami permasalahan yang sangat kompleks, sehingga seolah-olah pendidikan kurang berhasil. Hal ini terjadi karena tuntutan masyarakat semakin meningkat dan dinamika terus berjalan. Meski demikian, sumber daya manusia yang rendah tidak lepas dari kualitas pendidikan itu sendiri.

Sekolah merupakan ujung tombak dari proses modernisasi (agent of change) yang diupayakan melalui kebijakan pemerintah, produk dari sebuah sekolah harus berupa lulusan yang memiliki kompetensi unggul agar mampu menghadapi persaingan dijenjang pendidikan yang lebih tinggi atau dipasar tenaga kerja, namun saat ini dunia pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan dan keinginan masyarakat. Fenomena itu ditandai dari rendahnya mutu dan kualitas lulusan itu sendiri.

Berbicara mengenai kondisi kualitas pendidikan di Indonesia dapat dikemukakan saat ini sangat menyedihkan. Berdasarkan angka Human Development Index (Akdon: 227) bahwa mutu pendidikan Indonesia rendah, diantara 174 negara, ranking Indonesia pada tahun 1998 menduduki urutan ke-105. Tahun 1999 merosot menjadi ranking 109, dan pada tahun 2004 menempati ranking  ke-111 dari 177 negara.

Berikutnya berdasarkan laporan Balitbang Depdiknas yang disampaikan oleh Surya Dharma dalam Rakornas, Tanggal 17-19 Juli 2005 di Medan (Akdon: 227) menyatakan bahwa “Tingkat pendidikan masyarakat relatif masih rendah. Rata-rata lama sekolah penduduk usia > 15 tahun =7,1%. Penduduk usia > 10 tahun yang berpendidikan SMP = 36,2%. Buta aksara untuk penduduk usia > 15 tahun = 10,12%”.

Berkaca pada kondisi diatas maka perbaikan kualitas pendidikan harus dilakukan secara berkelanjutan agar sekolah mempunyai kualitas yang baik dan nantinya akan mengarah pada tercapainya tujuan pendidikan secara maksimal. Menururt Sallis, Edward (2008:45) peningkatan mutu menjadi semakin penting bagi institusi yang digunakan untuk memperoleh kontrol yang lebih baik melalui usahanya sendiri. Kebebasan yang baik harus disesuaikan dengan akuntabilitas yang baik. Institusi-institusi harus mendemonstrasikan bahwa mereka mampu memberikan pendidikan yang bermutu pada peserta didik.

Salah satu solusi yang bisa digunakan untuk mengatasi permasalahan yang diuraikan diatas adalah dengan implementasi manajemen berbasis sekolah strategik.

Pembahasan

a)      Manajemen Berbasis Sekolah Strategik

Mutu pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam upaya pengembangan sumber daya manusia yang sangat penting maknanya bagi pembangunan nasional.  Pendidikan yang berkualitas hanya dapat diwujudkan  melalui lembaga pendidikan yang bermutu. Karena itu upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan upaya yang strategis dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan pembangunan bangsa.

Salah satu metode peningkatan kualitas pendidikan adalah dengan implementasi manajemen berbasis sekolah strategik. Sejalan dengan pendapat Danim, Sudarwan (2008:18) bahwa MBS merupakan sebuah pilihan tepat dalam strategi manajemen sekolah pada era desentralisasi pendidikan. Dengan MBS, sekolah akan menjadi unit yang relatif otonom untuk menenentukan perwajahan yang dikehendakinya pada masa datang. Selain itu, para pakar MBS (Danim, Sudarwan, 2008:18) berargumen bahwa dengan adanya MBS, akan muncul kondusivitas komunikasi antar pengguna yang meliputi anggota komite sekolah, pengawas, kepala sekolah, guru-guru, orang tua siswa, tokoh masyarakat, kalangan profesional, kelompok peduli sekolah, anggota masyarakat dan siswa. Maka dapat disimpulkan bahwa implementasi manajemen berbasis sekolah strategik berpengaruh positif pada kualitas sekolah.

Sebelum membahas mengenai Manajemen Berbasis Sekolah Strategik, sebaiknya kita memahami dan mengerti terlebih dahulu mengenai pengertian dan konsep manajemen berbasis sekolah (selanjutnya disingkat MBS) dan manajemen strategik.

Menurut Malik, Halim MBS atau School Based Management merupakan strategi untuk mewujudkan sekolah yang efektif produktif. Istilah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat ketika masyarakat mulai mempertanyakan relevansi pendidikan dengan tuntutan dari perkembangan masyarakat setempat. MBS merupakan paradigma baru manajemen pendidikan, yang memberikan otonomi luas pada sekolah dan pelibatan masyarakat dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Otonomi diberikan agar sekolah leluasa menguasai sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.

Menurut Larry Kuehn (Danim, Sudarwan, 2008:33-34) nama lain yang maknanya sama atau hampir sama dengan MBS adalah sebagai berikut: (1) Manajemen Lokal Sekolah (local management of school), dimana sekolah memiliki otonomi pengelolaan pada tingkat kampus (building level) atau kompleks sekolah; (2) Pembagian kewenangan dalam pembuatan keputusan (shared decision making). Dalam kaitan ini, Dinas Diknas melimpahkan sebagian kewenangannya selama ini ke tingkat sekolah, baik secara langsung maupun melalui komite sekolah; (3) Pengelolaan sekolah secara mandiri (self managing schools). Sekolah memmiliki kewenangan mengelola diri dalam lingkup yang cukup luas untuk menyusun perencanaan, program, penganggaran, dan implementasi; (4) Sekolah dengan penentuan pengelolaan secara mandiri (self-determining schools). Sekolah memiliki kewenangan untuk ”menentukan nasib sendiri”, misalnya, dalam menegmbangkan program unggulan. Menentukan besarnya pembiayaan, mengatur program sekolah, dan lain-lain; (5) Otonomi sekolah secara lokal (locally-autonomous schools). Program internal sekolah dirancang dan diimplementasikan sendiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya dan yang mungkin diakses oleh lembaga; (6) Manajemen sekolah yang bersifat partisipatori (school participatory management), tempat untuk dapat mencipatakan kondisi sekolah yang efektif diperlukan partisipasi semua komunitas sekolah; (7) Devolusi (devolution), berupa perubahan pengelolaan sekolah dari banyak tergantung kepada instansi di atasnya menjadi dikelola dengan kemandirian tertentu sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan komunitas sekolah dan masyarakat sekitarnya; (8) Desentralisasi pengelolaan sekolah (school decentralization), meski sekolah merupakan subsistem dari sistem pendidikan nasional, sebagian program yang selama ini banyak dipandu dari instansi diatasnya dikelola dengan cara didesentralisasikan atau dilaksanakan secara mandiri; (9) Restrukturisasi sekolah (restructured school), berupa perubahan struktur sekolah dari tidak lebih sebagai perpanjangan tangan unit birokrasi di atasnya ke lembaga akademik yang tidak terlalu diikat oleh kaidah-kaidah kerja birokrasi pendidikan; (10) Sekolah berbasis swakelola atau penyelenggaraan sekolah secara mandiri (self governing), sebagian program sekolah ini direncanakan, didanai, dilaksanakan, dan dievaluasi sendiri keberhasilannya; (11) Sekolah berbasis penetuan “nasib” sendiri (self-determining), sekolah memiliki kewenangan untuk mandiri atau menentukan nasib sendiri, misalnya mengenai standar prestasi, program unggulan, muatan lokal, kalender belajar, program khusus dan sebagainya.

Sedangkan menurut Danim, Sudarwan (2008:34) MBS dapat didefinisikan sebagai suatu proses kerja komunitas sekolah dengan cara menerapkan kaidah-kaidah otonomi, akuntabilitas, partisipasi, sustainabilitas untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran secara bermutu.

Dari beberapa definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian MBS adalah sebuah strategi untuk memajukan pendidikan dengan mentransfer keputusan penting memberikan otoritas dari negara dan pemerintah daerah kepada individu pelaksana di sekolah dan menyediakan kepala sekolah, guru, siswa, serta orang tua kontrol yang sangat besar dalam proses pendidikan dengan memberi mereka tanggung jawab untuk memutuskan anggaran, personil, serta kurikulum sesuai dengan karakteristik sekolah tersebut.

Setelah memahami pengertian MBS, selanjutnya perlu diketahui pegertian dari manajemen strategik. Menurut Hunger, J. David dan Wheelen, Thomas L. (2003: 4) manajemen strategik adalah serangkaian keputusan dan tindakan manajerial yang menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Manajemen strategis meliputi pengamatan lingkungan, perumusan strategi (perencanaan strategis atau perencanaan jangka panjang), implementasi strategi, dan evaluasi, serta pengendalian. Manajemen strategis menekankan pada pengamatan dan evaluasi peluang dan ancaman  lingkungan dengan melihat kekuatan dan kelemahan perusahaan.

Menurut Hipni, Rohman manajemen strategik merupakan suatu sistem yang sebagai satu kesatuan memiliki berbagai komponen yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi, dan bergerak secara serentak (bersama-sama) kearah yang sama pula. Komponen pertama adalah perencanaan strategi dengan unsur-unsurnya yang terdiri dari visi, misi, tujuan dan strategi utama organisasi. Sedangkan komponen kedua adalah perencanaan operasional dengan unsur-unsurnya sasaran dan tujuan operasional, pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen berupa fungsi pengorganisasian, fungsi pelaksanaan dan fungsi penganggaran, kebijaksanaan situsional, jaringan kerja internal dan eksternal, fungsi kontrol dan evaluasi serta umpan balik.

Sedangkan menurut Nawawi, Hadari (2005: 148) manajemen strategik adalah proses atau rangkaian kegiatan pengambilan keputusan yang bersifat mendasar dan menyeluruh, disertai penetapan cara melaksanakannya, yang dibuat oleh manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran di dalam suatu organisasi, untuk mencapai tujuannya.

Dari  beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian manajemen strategik adalah usaha manajerial dalam menciptakan dan mengembangkan kelebihan (kekuatan) yang dimiliki suatu organisasi, yang mengharuskan pemimpin dengan atau tanpa bantuan anggotanya (bawahannya), untuk mengenali aspek-aspek kelebihan (kekuatan) organisasi yang sesuai dengan misinya yang harus ditumbuhkembangkan, untuk mencapai tujuan strategik yang telah ditetapkan sebelumnya. Maka dari itu setiap peluang atau kesempatan yang terbuka harus dimanfaatkan secara maksimal.

Setelah mengetahui definisi dan konsep mengenai MBS dan manajemen strategik, maka pembahasan selanjutnya adalah mengenai manajemen berbasis sekolah strategik.

Menurut Nawawi, Hadari (Akdon, 2009: 231) manajemen berbasis sekolah strategik adalah perencanaan berskala besar (disebut perencanaan strategik) yang berorientasi pada jangkauan masa depan yang jauh (disebut visi), dan ditetapkan sebagai keputusan manajemen berbasis sekolah puncak (keputusan yang bersifat mendasar dan prinsipil), agar memungkinkan organisasi berinteraksi secara efektif (disebut misi), dalam usaha menghasilkan sesuatu (perencanaan operasional untuk menghasilkan barang/jasa serta pelayanan) yang berkualitas, dengan diarahkan pada optimalisasi pencapaian tujuan (disebut tujuan strategik) dan berbagai sasaran (tujuan operasional organisasi). “Pengertian yang cukup luas ini menurut penulis menunjukkan bahwa manajemen berbasis sekolah strategik merupakan suatu sistem yang merupakan satu kesatuan yang memiliki berbagai komponen yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi, dan bergerak secara serentak (bersama-sama) ke arah yang sama pula. Komponen pertama adalah perencanaan strategik dengan unsur-unsurnya yang terdiri dari visi, misi, tujuan strategik dan strategik utama (induk) organisasi. Sedang komponen kedua adalah perencanaan operasional dengan unsur-unsurnya sasaran atau tujuan operasional, pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen berbasis sekolah berupa fungsi pengorganisasian, fungsi pelaksanaan dan fungsi penganggaran, kebijakan situasional, jaringan kerja (network) internal dan eksternal, fungsi kontrol dan evaluasi serta umpan balik.

Sedangkan menurut Akdon (2009:231) manajemen berbasis sekolah strategik adalah ilmu dan kiat tentang perumusan (formulating), pelaksanaan (implementing), dan evaluasi (evaluating) keputusan-keputusan strategik antar fungsi-fungsi manajemen berbasis sekolah yang memungkinkan organisasi mencapai tujuan-tujuan masa depan secara efektif dan efisien.

Menurut Hunger dan Wheelen (Akdon, 2009: 231) manajemen berbasis sekolah strategik adalah “seperangkat keputusan dan aksi manajerial yang menentukan kinerja jangka panjang suatu organisasi”. Manajemen berbasis sekolah strategik meliputi scaning lingkungan, perumusan strategi (perencanaan strategik), dan pelaksanaan strategi serta pengendalian dan evaluasi. Karena itu studi tentang “Manajemen Berbasis Sekolah Strategik” menekankan pada pemantauan dan evaluasi peluang serta ancaman lingkungan berdasarkan analisis kekuatan dan kelemahan organisasi.

Dari beberapa pengertian para ahli mengenai manajemen berbasis sekolah strategik diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya: (1) Manajemen berbasis sekolah strategik merupakan proses pengambilan keputusan; (2) Keputusan yang ditetapkan bersifat mendasar dan menyeluruh yang mengindikasikan berkenaan dengan aspek-aspek yang penting dalam kehidupan sebuah organisasi, terutama tujuannya dan cara melaksanakan atau cara mencapainya; (3) Dalam proses pembuatan keputusan harus dilakukan atau sekurang-kurangnya melibatkan pemimpin, sebagai penanggungjawab utama pada keberhasilan atau kegagalan organisasinya; (4) Pengimplementasian keputusan tersebut sebagai strategi organisasi untuk mencapai tujuan strategiknya dilakukan oleh seluruh jajaran organisasi, maksudnya seluruh anggota organisasi maupun pemimpin harus mengetahui dan menjalankan peranan sesuai wewenang dan tanggung jawab masing-masing; (5) Keputusan yang ditetapakan manajemen berbasis sekolah puncak yang harus diimplementasikan oleh seluruh jajaran organisasi dalam bentuk kegiatan/pelaksanaan pekerjaan yang terarah pada tujuan strategik organisasi.

b)      Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Strategik

Sesuai dengan konsep implementasi MBS, dalam pengaturan satuan pendidikan (lebih khususnya sekolah) berbasis pada potensi masyarakat dan lingkungan di sekitar sekolah. Menurut Mulyasa (2002: 59-63) agar MBS dapat berjalan secara optimal, diperlukan strategi dalam pengimplementasian MBS, yakni: (1) Perlu dilakukan pengelompokan sekolah berdasarkan kemampuan manajemen, dengan mempertimbangkan kondisi lokasi dan kualitas sekolah. Dalam hal ini sedikitnya akan ditemui tiga kategori sekolah, yaitu baik, sedang, dan kurang, yang tersebar di lokasi-lokasi maju, sedang, dan ketinggalan. Perbedaan kemampuan manajemen, mengharuskan perlakuan yang berbeda terhadap setiap sekolah sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing dalam menyerap paradigma baru yang ditawarkan MBS; (2) Pentahapan implementasi MBS melalui tiga tahap yaitu jangka pendek (tahun pertama sampai dengan tahun ketiga), jangka menengah (tahun keempat sampai dengan tahun keenam), dan jangka panjang (setelah tahun keenam); (3) Implementasi MBS memerlukan seperangkat peraturan dan pedoman-pedoman (guidelines) umum yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam perencanaan, monitoring dan evaluasi, serta laporan pelaksanaan. Perangkat implementasi ini perlu diperkenalkan sejak awal, melalui pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan sejak pelaksanaan jangka pendek.

Menurut Kusmana, Suherli dalam seminar nasional yang diselenggarakan di Cilacap Jawa Tengah manajemen strategik dalam dunia pendidikan merupakan suatu pengelolaan satuan pendidikan berdasarkan pendekatan terhadap analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan untuk merancang aktivitas dalam rangka mencapai visi, misi, dan tujuan sekolah yang telah ditentukan.

Adapun Kusmana, Suherli dalam seminar nasional yang diselenggarakan di Cilacap Jawa Tengah mengemukakan sebagai berikut:1) Upaya Peningkatan Mutu sebagai Dasar Manajemen Strategik yaitu Program peningkatan mutu pendidikan yang dicanangkan pemerintah sebagai salah satu rencana strategik harus ditindaklanjuti di tingkat satuan pendidikan. Peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing dimaksudkan untuk perwujudan eksistensi manusia dan interaksinya sehingga dapat hidup bersama dalam keragaman sosial dan budaya. Dalam menerapkan manajemen strategik, Kepala sekolah memimpin satuan pendidikan untuk melakukan analisis terhadap potensi diri dan lingkungan. Analisis ini merupakan dasar untuk melaksanakan manajemen mutu yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP). Standar ini meliputi berbagai komponen yang terkait dengan mutu pendidikan sesuai dengan PP nomor 19 tahun 2005, yaitu standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Kepala sekolah menetapkan pencapaian terhadap standar-standar tersebut sebagai dasar untuk mengukur kinerja satuan pendidikan yang dipimpinnya pada standarisasi pendidikan; 2) Menerapkan Manajemen Strategik Kontemporer yaitu dalam melaksanakan manajemen strategik, saat ini telah berkembang dari suatu manajemen strategik yang tradisional ke arah suatu sistem manajemen bersifat kontemporer. Sistem manajemen strategik kontemporer memiliki karakteristik yang berbeda dengan sistem manajemen tradisional. Sistem manajemen tradisional hanya berfokus pada sasaran-sasaran yang bersifat efisiensi keuangan, sedangkan sistem manajemen kontemporer mencakup empat perspektif yaitu mencakup perspektif efisiensi keuangan, proses layanan internal, kepuasan pelanggan, dan pertumbuhan layanan jasa. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam melaksanakan manajemen strategik adalah menggunakan empat komponen manajemen strategik, yaitu: (1) Analisis potensi dan profil satuan pendidikan (sekolah/madrasah) untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan;
(2) Analisis lingkungan untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman dalam melaksanakan layanan jasa pendidikan; (3) Menetapkan visi dan misi berdasarkan analisis potensi dan lingkungan sebagai acuan dalam pengelolaan satuan pendidikan; (4) Menetapkan strategi yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja sekolah dalam mencapai visi dan misi sekolah.

Dapat disimpulkan bahwasanya implementasi manajemen berbasis sekolah strategik pada intinya adalah memilih alternatif strategik yang terbaik bagi organisasi sekolah dalam segala hal untuk mendukung gerak usaha organisasi sekolah dan organisasi sekolah  harus melaksanakan manajemen berbasis sekolah strategik secara terus menerus dan harus fleksibel sesuai dengan tuntutan kondisi di lapangan. Dengan begitu maka akan mengarah ke perbaikan kualitas pendidikan di sekolah.

Penutup

Kesimpulan

            Implementasi manajemen berbasis sekolah strategik merupakan sebuah pendekatan yang sangat baik dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. Pada dasarnya manajemen berbasis sekolah strategik mengandung dua unsur pokok, yakni: (1) Manajemen berbasis sekolah strategik terdiri dari tiga macam proses manajemen berbasis sekolah yaitu pembuatan strategi, penerapan strategi, dan evaluasi atau kontrol terhadap strategi; (2) Manajemen berbasis sekolah strategik memfokuskan pada penyatuan atau penggabungan aspek-aspek pemasaran, riset dan pengembangan, keuangan dan operasional suatu unit sekolah. Dari kedua unsur pokok diatas, apabila bisa dipahami dan dilaksanakan dengan baik oleh sekolah, maka akan berpengaruh positif pada perbaikan kualitas pendidikan yang ada di sekolah.

Saran

            Aspek utama yang harus diperhatikan dalam implementasi manajemen berbasis sekolah strategik adalah: (1) Pemilihan strategi yang tepat yang diterapkan pada sasaran input, proses dan hasil yang disesuaikan dengan karakteristik sekolah tersebut; (2) Melakukan analisis lingkungan internal (kekuatan dan kelemahan) dan analisis lingkungan eksternal (ancaman dan peluang) untuk mengetahui posisi dan kondisi sekolah.

 DAFTAR RUJUKAN

Akdon. 2009. Strategic Management for educational Management. Bandung: PT Alfabeta

Danim, Sudarwan. 2008. Visi Baru Manajemen Sekolah Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik. Jakarta: Bumi Aksara

Hipni, Rohman. 2012. Pengertian/definisi Manajemen Strategi, (online), (http://hipni.blogspot.com/2012/02/pengertiandefinisi-manajemen-strategi.html, diakses tanggal 29 Maret 2012)

Hunger, J. David dan Wheelen, Thomas L. 2003. Manajemen Strategis. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Kusmana, Suherli. 2009. Manajemen Strategik Dalam Mengelola Satuan Pendidikan. Makalah ini disajikan dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan di Cilacap Jawa Tengah pada tanggal 14 Juni 2009.

Malik, Halim. 2011. Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (Hardiknas-Rangkat), (online), (http://edukasi.kompasiana.com/2011/05/02/konsep-manajemen-berbasis-sekolah-hardiknas-rangkat/, diakses tanggal 29 Maret 2012)

Mulyasa, E. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan Implementasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nawawi, Hadari. 2005. Manajemen Strategik Organisai non Profit Bidang Pemerintahan Dengan Ilustrasi di Bidang Pendidikan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Sallis, Edward. 2008. Total Quality Management In Education. Jogjakarta: IRCiSoD

Tim. 2006. Panduan Penulisan dan Penilaian Skripsi. Surabaya: Unesa University Press