IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS) STRATEGIK DALAM PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN

Oleh :

Windha Yulyana (091714024)

Abstrak

Kualitas pendidikan harus senantiasa ditingkatkan, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah strategik. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui implementasi manajemen berbasis sekolah strategik dalam peningkatan kualitas pendidikan di sekolah. Metode penulisan menggunakan metode library research (studi pustaka). Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan manajemen berbasis sekolah strategik merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.

Kata kunci: manajemen strategik, manajemen berbasis sekolah strategik, kualitas pendidikan

            Pembahasan mengenai pendidikan, memang tidak ada habisnya. Pendidikan di Indonesia mengalami permasalahan yang sangat kompleks, sehingga seolah-olah pendidikan kurang berhasil. Hal ini terjadi karena tuntutan masyarakat semakin meningkat dan dinamika terus berjalan. Meski demikian, sumber daya manusia yang rendah tidak lepas dari kualitas pendidikan itu sendiri.

Sekolah merupakan ujung tombak dari proses modernisasi (agent of change) yang diupayakan melalui kebijakan pemerintah, produk dari sebuah sekolah harus berupa lulusan yang memiliki kompetensi unggul agar mampu menghadapi persaingan dijenjang pendidikan yang lebih tinggi atau dipasar tenaga kerja, namun saat ini dunia pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan dan keinginan masyarakat. Fenomena itu ditandai dari rendahnya mutu dan kualitas lulusan itu sendiri.

Berbicara mengenai kondisi kualitas pendidikan di Indonesia dapat dikemukakan saat ini sangat menyedihkan. Berdasarkan angka Human Development Index (Akdon: 227) bahwa mutu pendidikan Indonesia rendah, diantara 174 negara, ranking Indonesia pada tahun 1998 menduduki urutan ke-105. Tahun 1999 merosot menjadi ranking 109, dan pada tahun 2004 menempati ranking  ke-111 dari 177 negara.

Berikutnya berdasarkan laporan Balitbang Depdiknas yang disampaikan oleh Surya Dharma dalam Rakornas, Tanggal 17-19 Juli 2005 di Medan (Akdon: 227) menyatakan bahwa “Tingkat pendidikan masyarakat relatif masih rendah. Rata-rata lama sekolah penduduk usia > 15 tahun =7,1%. Penduduk usia > 10 tahun yang berpendidikan SMP = 36,2%. Buta aksara untuk penduduk usia > 15 tahun = 10,12%”.

Berkaca pada kondisi diatas maka perbaikan kualitas pendidikan harus dilakukan secara berkelanjutan agar sekolah mempunyai kualitas yang baik dan nantinya akan mengarah pada tercapainya tujuan pendidikan secara maksimal. Menururt Sallis, Edward (2008:45) peningkatan mutu menjadi semakin penting bagi institusi yang digunakan untuk memperoleh kontrol yang lebih baik melalui usahanya sendiri. Kebebasan yang baik harus disesuaikan dengan akuntabilitas yang baik. Institusi-institusi harus mendemonstrasikan bahwa mereka mampu memberikan pendidikan yang bermutu pada peserta didik.

Salah satu solusi yang bisa digunakan untuk mengatasi permasalahan yang diuraikan diatas adalah dengan implementasi manajemen berbasis sekolah strategik.

Pembahasan

a)      Manajemen Berbasis Sekolah Strategik

Mutu pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam upaya pengembangan sumber daya manusia yang sangat penting maknanya bagi pembangunan nasional.  Pendidikan yang berkualitas hanya dapat diwujudkan  melalui lembaga pendidikan yang bermutu. Karena itu upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan upaya yang strategis dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan pembangunan bangsa.

Salah satu metode peningkatan kualitas pendidikan adalah dengan implementasi manajemen berbasis sekolah strategik. Sejalan dengan pendapat Danim, Sudarwan (2008:18) bahwa MBS merupakan sebuah pilihan tepat dalam strategi manajemen sekolah pada era desentralisasi pendidikan. Dengan MBS, sekolah akan menjadi unit yang relatif otonom untuk menenentukan perwajahan yang dikehendakinya pada masa datang. Selain itu, para pakar MBS (Danim, Sudarwan, 2008:18) berargumen bahwa dengan adanya MBS, akan muncul kondusivitas komunikasi antar pengguna yang meliputi anggota komite sekolah, pengawas, kepala sekolah, guru-guru, orang tua siswa, tokoh masyarakat, kalangan profesional, kelompok peduli sekolah, anggota masyarakat dan siswa. Maka dapat disimpulkan bahwa implementasi manajemen berbasis sekolah strategik berpengaruh positif pada kualitas sekolah.

Sebelum membahas mengenai Manajemen Berbasis Sekolah Strategik, sebaiknya kita memahami dan mengerti terlebih dahulu mengenai pengertian dan konsep manajemen berbasis sekolah (selanjutnya disingkat MBS) dan manajemen strategik.

Menurut Malik, Halim MBS atau School Based Management merupakan strategi untuk mewujudkan sekolah yang efektif produktif. Istilah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat ketika masyarakat mulai mempertanyakan relevansi pendidikan dengan tuntutan dari perkembangan masyarakat setempat. MBS merupakan paradigma baru manajemen pendidikan, yang memberikan otonomi luas pada sekolah dan pelibatan masyarakat dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Otonomi diberikan agar sekolah leluasa menguasai sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.

Menurut Larry Kuehn (Danim, Sudarwan, 2008:33-34) nama lain yang maknanya sama atau hampir sama dengan MBS adalah sebagai berikut: (1) Manajemen Lokal Sekolah (local management of school), dimana sekolah memiliki otonomi pengelolaan pada tingkat kampus (building level) atau kompleks sekolah; (2) Pembagian kewenangan dalam pembuatan keputusan (shared decision making). Dalam kaitan ini, Dinas Diknas melimpahkan sebagian kewenangannya selama ini ke tingkat sekolah, baik secara langsung maupun melalui komite sekolah; (3) Pengelolaan sekolah secara mandiri (self managing schools). Sekolah memmiliki kewenangan mengelola diri dalam lingkup yang cukup luas untuk menyusun perencanaan, program, penganggaran, dan implementasi; (4) Sekolah dengan penentuan pengelolaan secara mandiri (self-determining schools). Sekolah memiliki kewenangan untuk ”menentukan nasib sendiri”, misalnya, dalam menegmbangkan program unggulan. Menentukan besarnya pembiayaan, mengatur program sekolah, dan lain-lain; (5) Otonomi sekolah secara lokal (locally-autonomous schools). Program internal sekolah dirancang dan diimplementasikan sendiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya dan yang mungkin diakses oleh lembaga; (6) Manajemen sekolah yang bersifat partisipatori (school participatory management), tempat untuk dapat mencipatakan kondisi sekolah yang efektif diperlukan partisipasi semua komunitas sekolah; (7) Devolusi (devolution), berupa perubahan pengelolaan sekolah dari banyak tergantung kepada instansi di atasnya menjadi dikelola dengan kemandirian tertentu sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan komunitas sekolah dan masyarakat sekitarnya; (8) Desentralisasi pengelolaan sekolah (school decentralization), meski sekolah merupakan subsistem dari sistem pendidikan nasional, sebagian program yang selama ini banyak dipandu dari instansi diatasnya dikelola dengan cara didesentralisasikan atau dilaksanakan secara mandiri; (9) Restrukturisasi sekolah (restructured school), berupa perubahan struktur sekolah dari tidak lebih sebagai perpanjangan tangan unit birokrasi di atasnya ke lembaga akademik yang tidak terlalu diikat oleh kaidah-kaidah kerja birokrasi pendidikan; (10) Sekolah berbasis swakelola atau penyelenggaraan sekolah secara mandiri (self governing), sebagian program sekolah ini direncanakan, didanai, dilaksanakan, dan dievaluasi sendiri keberhasilannya; (11) Sekolah berbasis penetuan “nasib” sendiri (self-determining), sekolah memiliki kewenangan untuk mandiri atau menentukan nasib sendiri, misalnya mengenai standar prestasi, program unggulan, muatan lokal, kalender belajar, program khusus dan sebagainya.

Sedangkan menurut Danim, Sudarwan (2008:34) MBS dapat didefinisikan sebagai suatu proses kerja komunitas sekolah dengan cara menerapkan kaidah-kaidah otonomi, akuntabilitas, partisipasi, sustainabilitas untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran secara bermutu.

Dari beberapa definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian MBS adalah sebuah strategi untuk memajukan pendidikan dengan mentransfer keputusan penting memberikan otoritas dari negara dan pemerintah daerah kepada individu pelaksana di sekolah dan menyediakan kepala sekolah, guru, siswa, serta orang tua kontrol yang sangat besar dalam proses pendidikan dengan memberi mereka tanggung jawab untuk memutuskan anggaran, personil, serta kurikulum sesuai dengan karakteristik sekolah tersebut.

Setelah memahami pengertian MBS, selanjutnya perlu diketahui pegertian dari manajemen strategik. Menurut Hunger, J. David dan Wheelen, Thomas L. (2003: 4) manajemen strategik adalah serangkaian keputusan dan tindakan manajerial yang menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Manajemen strategis meliputi pengamatan lingkungan, perumusan strategi (perencanaan strategis atau perencanaan jangka panjang), implementasi strategi, dan evaluasi, serta pengendalian. Manajemen strategis menekankan pada pengamatan dan evaluasi peluang dan ancaman  lingkungan dengan melihat kekuatan dan kelemahan perusahaan.

Menurut Hipni, Rohman manajemen strategik merupakan suatu sistem yang sebagai satu kesatuan memiliki berbagai komponen yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi, dan bergerak secara serentak (bersama-sama) kearah yang sama pula. Komponen pertama adalah perencanaan strategi dengan unsur-unsurnya yang terdiri dari visi, misi, tujuan dan strategi utama organisasi. Sedangkan komponen kedua adalah perencanaan operasional dengan unsur-unsurnya sasaran dan tujuan operasional, pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen berupa fungsi pengorganisasian, fungsi pelaksanaan dan fungsi penganggaran, kebijaksanaan situsional, jaringan kerja internal dan eksternal, fungsi kontrol dan evaluasi serta umpan balik.

Sedangkan menurut Nawawi, Hadari (2005: 148) manajemen strategik adalah proses atau rangkaian kegiatan pengambilan keputusan yang bersifat mendasar dan menyeluruh, disertai penetapan cara melaksanakannya, yang dibuat oleh manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran di dalam suatu organisasi, untuk mencapai tujuannya.

Dari  beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian manajemen strategik adalah usaha manajerial dalam menciptakan dan mengembangkan kelebihan (kekuatan) yang dimiliki suatu organisasi, yang mengharuskan pemimpin dengan atau tanpa bantuan anggotanya (bawahannya), untuk mengenali aspek-aspek kelebihan (kekuatan) organisasi yang sesuai dengan misinya yang harus ditumbuhkembangkan, untuk mencapai tujuan strategik yang telah ditetapkan sebelumnya. Maka dari itu setiap peluang atau kesempatan yang terbuka harus dimanfaatkan secara maksimal.

Setelah mengetahui definisi dan konsep mengenai MBS dan manajemen strategik, maka pembahasan selanjutnya adalah mengenai manajemen berbasis sekolah strategik.

Menurut Nawawi, Hadari (Akdon, 2009: 231) manajemen berbasis sekolah strategik adalah perencanaan berskala besar (disebut perencanaan strategik) yang berorientasi pada jangkauan masa depan yang jauh (disebut visi), dan ditetapkan sebagai keputusan manajemen berbasis sekolah puncak (keputusan yang bersifat mendasar dan prinsipil), agar memungkinkan organisasi berinteraksi secara efektif (disebut misi), dalam usaha menghasilkan sesuatu (perencanaan operasional untuk menghasilkan barang/jasa serta pelayanan) yang berkualitas, dengan diarahkan pada optimalisasi pencapaian tujuan (disebut tujuan strategik) dan berbagai sasaran (tujuan operasional organisasi). “Pengertian yang cukup luas ini menurut penulis menunjukkan bahwa manajemen berbasis sekolah strategik merupakan suatu sistem yang merupakan satu kesatuan yang memiliki berbagai komponen yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi, dan bergerak secara serentak (bersama-sama) ke arah yang sama pula. Komponen pertama adalah perencanaan strategik dengan unsur-unsurnya yang terdiri dari visi, misi, tujuan strategik dan strategik utama (induk) organisasi. Sedang komponen kedua adalah perencanaan operasional dengan unsur-unsurnya sasaran atau tujuan operasional, pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen berbasis sekolah berupa fungsi pengorganisasian, fungsi pelaksanaan dan fungsi penganggaran, kebijakan situasional, jaringan kerja (network) internal dan eksternal, fungsi kontrol dan evaluasi serta umpan balik.

Sedangkan menurut Akdon (2009:231) manajemen berbasis sekolah strategik adalah ilmu dan kiat tentang perumusan (formulating), pelaksanaan (implementing), dan evaluasi (evaluating) keputusan-keputusan strategik antar fungsi-fungsi manajemen berbasis sekolah yang memungkinkan organisasi mencapai tujuan-tujuan masa depan secara efektif dan efisien.

Menurut Hunger dan Wheelen (Akdon, 2009: 231) manajemen berbasis sekolah strategik adalah “seperangkat keputusan dan aksi manajerial yang menentukan kinerja jangka panjang suatu organisasi”. Manajemen berbasis sekolah strategik meliputi scaning lingkungan, perumusan strategi (perencanaan strategik), dan pelaksanaan strategi serta pengendalian dan evaluasi. Karena itu studi tentang “Manajemen Berbasis Sekolah Strategik” menekankan pada pemantauan dan evaluasi peluang serta ancaman lingkungan berdasarkan analisis kekuatan dan kelemahan organisasi.

Dari beberapa pengertian para ahli mengenai manajemen berbasis sekolah strategik diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya: (1) Manajemen berbasis sekolah strategik merupakan proses pengambilan keputusan; (2) Keputusan yang ditetapkan bersifat mendasar dan menyeluruh yang mengindikasikan berkenaan dengan aspek-aspek yang penting dalam kehidupan sebuah organisasi, terutama tujuannya dan cara melaksanakan atau cara mencapainya; (3) Dalam proses pembuatan keputusan harus dilakukan atau sekurang-kurangnya melibatkan pemimpin, sebagai penanggungjawab utama pada keberhasilan atau kegagalan organisasinya; (4) Pengimplementasian keputusan tersebut sebagai strategi organisasi untuk mencapai tujuan strategiknya dilakukan oleh seluruh jajaran organisasi, maksudnya seluruh anggota organisasi maupun pemimpin harus mengetahui dan menjalankan peranan sesuai wewenang dan tanggung jawab masing-masing; (5) Keputusan yang ditetapakan manajemen berbasis sekolah puncak yang harus diimplementasikan oleh seluruh jajaran organisasi dalam bentuk kegiatan/pelaksanaan pekerjaan yang terarah pada tujuan strategik organisasi.

b)      Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Strategik

Sesuai dengan konsep implementasi MBS, dalam pengaturan satuan pendidikan (lebih khususnya sekolah) berbasis pada potensi masyarakat dan lingkungan di sekitar sekolah. Menurut Mulyasa (2002: 59-63) agar MBS dapat berjalan secara optimal, diperlukan strategi dalam pengimplementasian MBS, yakni: (1) Perlu dilakukan pengelompokan sekolah berdasarkan kemampuan manajemen, dengan mempertimbangkan kondisi lokasi dan kualitas sekolah. Dalam hal ini sedikitnya akan ditemui tiga kategori sekolah, yaitu baik, sedang, dan kurang, yang tersebar di lokasi-lokasi maju, sedang, dan ketinggalan. Perbedaan kemampuan manajemen, mengharuskan perlakuan yang berbeda terhadap setiap sekolah sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing dalam menyerap paradigma baru yang ditawarkan MBS; (2) Pentahapan implementasi MBS melalui tiga tahap yaitu jangka pendek (tahun pertama sampai dengan tahun ketiga), jangka menengah (tahun keempat sampai dengan tahun keenam), dan jangka panjang (setelah tahun keenam); (3) Implementasi MBS memerlukan seperangkat peraturan dan pedoman-pedoman (guidelines) umum yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam perencanaan, monitoring dan evaluasi, serta laporan pelaksanaan. Perangkat implementasi ini perlu diperkenalkan sejak awal, melalui pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan sejak pelaksanaan jangka pendek.

Menurut Kusmana, Suherli dalam seminar nasional yang diselenggarakan di Cilacap Jawa Tengah manajemen strategik dalam dunia pendidikan merupakan suatu pengelolaan satuan pendidikan berdasarkan pendekatan terhadap analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan untuk merancang aktivitas dalam rangka mencapai visi, misi, dan tujuan sekolah yang telah ditentukan.

Adapun Kusmana, Suherli dalam seminar nasional yang diselenggarakan di Cilacap Jawa Tengah mengemukakan sebagai berikut:1) Upaya Peningkatan Mutu sebagai Dasar Manajemen Strategik yaitu Program peningkatan mutu pendidikan yang dicanangkan pemerintah sebagai salah satu rencana strategik harus ditindaklanjuti di tingkat satuan pendidikan. Peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing dimaksudkan untuk perwujudan eksistensi manusia dan interaksinya sehingga dapat hidup bersama dalam keragaman sosial dan budaya. Dalam menerapkan manajemen strategik, Kepala sekolah memimpin satuan pendidikan untuk melakukan analisis terhadap potensi diri dan lingkungan. Analisis ini merupakan dasar untuk melaksanakan manajemen mutu yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP). Standar ini meliputi berbagai komponen yang terkait dengan mutu pendidikan sesuai dengan PP nomor 19 tahun 2005, yaitu standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Kepala sekolah menetapkan pencapaian terhadap standar-standar tersebut sebagai dasar untuk mengukur kinerja satuan pendidikan yang dipimpinnya pada standarisasi pendidikan; 2) Menerapkan Manajemen Strategik Kontemporer yaitu dalam melaksanakan manajemen strategik, saat ini telah berkembang dari suatu manajemen strategik yang tradisional ke arah suatu sistem manajemen bersifat kontemporer. Sistem manajemen strategik kontemporer memiliki karakteristik yang berbeda dengan sistem manajemen tradisional. Sistem manajemen tradisional hanya berfokus pada sasaran-sasaran yang bersifat efisiensi keuangan, sedangkan sistem manajemen kontemporer mencakup empat perspektif yaitu mencakup perspektif efisiensi keuangan, proses layanan internal, kepuasan pelanggan, dan pertumbuhan layanan jasa. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam melaksanakan manajemen strategik adalah menggunakan empat komponen manajemen strategik, yaitu: (1) Analisis potensi dan profil satuan pendidikan (sekolah/madrasah) untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan;
(2) Analisis lingkungan untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman dalam melaksanakan layanan jasa pendidikan; (3) Menetapkan visi dan misi berdasarkan analisis potensi dan lingkungan sebagai acuan dalam pengelolaan satuan pendidikan; (4) Menetapkan strategi yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja sekolah dalam mencapai visi dan misi sekolah.

Dapat disimpulkan bahwasanya implementasi manajemen berbasis sekolah strategik pada intinya adalah memilih alternatif strategik yang terbaik bagi organisasi sekolah dalam segala hal untuk mendukung gerak usaha organisasi sekolah dan organisasi sekolah  harus melaksanakan manajemen berbasis sekolah strategik secara terus menerus dan harus fleksibel sesuai dengan tuntutan kondisi di lapangan. Dengan begitu maka akan mengarah ke perbaikan kualitas pendidikan di sekolah.

Penutup

Kesimpulan

            Implementasi manajemen berbasis sekolah strategik merupakan sebuah pendekatan yang sangat baik dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. Pada dasarnya manajemen berbasis sekolah strategik mengandung dua unsur pokok, yakni: (1) Manajemen berbasis sekolah strategik terdiri dari tiga macam proses manajemen berbasis sekolah yaitu pembuatan strategi, penerapan strategi, dan evaluasi atau kontrol terhadap strategi; (2) Manajemen berbasis sekolah strategik memfokuskan pada penyatuan atau penggabungan aspek-aspek pemasaran, riset dan pengembangan, keuangan dan operasional suatu unit sekolah. Dari kedua unsur pokok diatas, apabila bisa dipahami dan dilaksanakan dengan baik oleh sekolah, maka akan berpengaruh positif pada perbaikan kualitas pendidikan yang ada di sekolah.

Saran

            Aspek utama yang harus diperhatikan dalam implementasi manajemen berbasis sekolah strategik adalah: (1) Pemilihan strategi yang tepat yang diterapkan pada sasaran input, proses dan hasil yang disesuaikan dengan karakteristik sekolah tersebut; (2) Melakukan analisis lingkungan internal (kekuatan dan kelemahan) dan analisis lingkungan eksternal (ancaman dan peluang) untuk mengetahui posisi dan kondisi sekolah.

 DAFTAR RUJUKAN

Akdon. 2009. Strategic Management for educational Management. Bandung: PT Alfabeta

Danim, Sudarwan. 2008. Visi Baru Manajemen Sekolah Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik. Jakarta: Bumi Aksara

Hipni, Rohman. 2012. Pengertian/definisi Manajemen Strategi, (online), (http://hipni.blogspot.com/2012/02/pengertiandefinisi-manajemen-strategi.html, diakses tanggal 29 Maret 2012)

Hunger, J. David dan Wheelen, Thomas L. 2003. Manajemen Strategis. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Kusmana, Suherli. 2009. Manajemen Strategik Dalam Mengelola Satuan Pendidikan. Makalah ini disajikan dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan di Cilacap Jawa Tengah pada tanggal 14 Juni 2009.

Malik, Halim. 2011. Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (Hardiknas-Rangkat), (online), (http://edukasi.kompasiana.com/2011/05/02/konsep-manajemen-berbasis-sekolah-hardiknas-rangkat/, diakses tanggal 29 Maret 2012)

Mulyasa, E. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan Implementasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nawawi, Hadari. 2005. Manajemen Strategik Organisai non Profit Bidang Pemerintahan Dengan Ilustrasi di Bidang Pendidikan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Sallis, Edward. 2008. Total Quality Management In Education. Jogjakarta: IRCiSoD

Tim. 2006. Panduan Penulisan dan Penilaian Skripsi. Surabaya: Unesa University Press

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: