Pelaksanaan Strategi Manajemen Kelas Dalam Pembelajaran Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa

Istilah strategi sudah tidak asing di telinga kita, menurut Fathurrohman, Pupuh dan M. Sobry Sutikno (2007:3) secara bahasa, strategi bisa diartikan sebagai ’siasat’, ’kiat’,’trik’, atau ’cara’. Sedang secara umum strategi ialah suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Menurut Sanjaya, Wina (2007:126) dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sedangkan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal adalah dinamakan dengan metode. Strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Menurut Sanjaya, Wina (2007:128) strategi juga dapat diartikan istilah, teknik dan taktik mengajar. Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode. Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Sedangkan mengenai bagaimana menjalankan strategi, dapat ditetapkan berbagai metode pembelajaran. Dalam upaya menjalankan metode pembelajaran guru dapat menentukan teknik yang dianggapnya relevan dengan metode, dan penggunaan teknik guru memiliki taktik yang mungkin berbeda antara guru yang satu dengan guru yang lain.
Mengacu pada konteks belajar mengajar bahwa strategi adalah teknik atau siasat yang digunakan guru dan dipraktekkan oleh guru dan siswa dalam berbagai peristiwa pembelajaran untuk mewujudkan tujuan pembelajaran agar lebih efektif dan efisien. Selanjutnya untuk memahami tentang manajemen kelas secara mendalam maka akan dikemukakan beberapa pendapat dari para ahli diantaranya:
a. Hadari Nawawi
Kegiatan manajemen atau pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah, sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid.
b. Burhanuddin
Manajemen/pengelolaan kelas merupakan proses upaya yang dilakukan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi yang kondusif dan optimal bagi terselenggaranya kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien.
c. Berdasarkan Konsepsi Lama Dan Modern
Menurut konsepsi lama, manajemen kelas diartikan sebagai upaya mempertahankan ketertiban kelas. Menurut konsepsi modern manajemen kelas adalah proses seleksi yang menggunakan alat yang tetap terhadap problem dan situasi manajemen kelas (Lois V. Jhonson dan Mary Bany, 1970)
Dari beberapa pengertian strategi dan manajemen kelas diatas, maka strategi manajemen kelas dapat diartikan sebagai “pola siasat, cara, teknik, atau langkah-langkah yang digunakan guru dalam menciptakan, menimbulkan dan mempertahankan kondisi kelas tetap kondusif, agar siswa dapat belajar maksimal, aktif, dan menyenangkan dengan efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan”.
Guru mempunyai tanggung jawab yang vital selama proses belajar mengajar berlangsung. Mulai dari lingkungan fisik sampai pada suasana belajar di kelas. Kelas yang diorganisasi dengan baik dan dikelola secara efektif dan efisien merupakan pokok yang esensial bagi terselenggaranya suatu program instruksional yang baik dan terciptanya suatu iklim saling menghormati dan memperdulikan antar siswa, serta antara siswa dengan guru. Maka dari itu seorang guru yang profesional seharusnya mempunyai kompetensi yang baik dalam bidang manajemen kelas, karena dengan manajemen kelas yang baik akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa yang baik juga.
Dalam manajemen/pengelolaan kelas oleh guru dalam proses belajar mengajar ada beberapa strategi dalam meningkatkan prestasi siswa yang bisa diimplementasikan oleh guru, diantaranya yaitu:
a. Pengelolaan lingkungan kelas
Menurut Majid, Abdul (2006:167) iklim kelas yang kondusif merupakan pertimbangan utama dan memberikan daya tarik tersendiri bagi proses pembelajaran. Iklim belajar kondusif harus ditunjang oleh beberapa fasilitas yang menyenangkan demi kelancaran proses belajar mengajar. Seperti sarana, penataan ruang kelas, laboratorium untuk praktik, pengaturan lingkungan belajar, penampilan dan sikap guru, hubungan yang harmonis antar siswa sendiri, serta penataan organisasi dan bahan pembelajaran secara tepat sesuai dengan kemampuan siswa.
Iklim kelas yang positif dan kondusif juga dapat di ciptakan dengan pembinaan disiplin yang lebih didasarkan pada responsibilitas daripada ”punishment (hukuman)”, sehingga siswa dapat mandiri. Hubungan antara guru dan murid yang efektif diwarnai oleh perilaku-perilaku guru spesifik, yang dilakukan dengan cara:
1) Membangkitkan peraturan, prosedur-prosedur, dan konsekuensi yang jelas bagi perilaku siswa
2) Merumuskan tujuan-tujuan pembelajaran yang jelas, misalkan mengkomunikasikan tujuan pembelajaran pada permulaan bab pengajaran.
3) Memperlihatkan perilaku asertif (tegas) dalam hal penggunaan nada suara yang tepat berbicara secara jelas dan tidak terlalu melengking, penggunaan bahasa tubuh guru yang tegap dengan menjaga jarak terhadap anak yang nakal, guru dengan tegas menunggu respon atau ungkapan siswa.
4) Menciptakan kerjasama antara guru dan siswa dengan memberikan tujuan-tujuan pembelajaran yang fleksibel kepada siswa.
5) Menarik minat peribadi dalam diri siswa dengan cara berbicara secara informal dengan siswa.
6) Mempergunakan interaksi-interaksi kelas dengan siswa secara positif dan merata, dengan cara berkontak mata dengan siswa dengan memandang keseluruh kelas.
Hubungan antara guru dengan siswa memberikan suatu pokok yang esensial bagi manajemen kelas yang efektif dan merupakan kunci ke peraihan prestasi belajar siswa yang tinggi. Terciptanya hubungan-hubungan yang positif akan membawa suasana yang menyenangkan bagi siswa dalam belajar, sehingga terciptanya iklim yang kondusif.
b. Penerapan Strategi pembelajaran
Untuk menciptakan iklim pembelajaran yang menyenangkan dan siswa antusias dalam mengikuti pelajaran, seorang guru harus mampu menerapkan komponen strategi pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai secara maksimal. Dalam meningkatkan prestasi/hasil belajar dalam bentuk dampak Instruksional dan untuk mengarahkan dampak pengiring terhadap hal-hal yang positif, guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang efektif dan menerapkan strategi pembelajaran. Menurut Ametambun (2004:5) upaya peningkatan kualitas belajar mengajar dapat ditempuh dengan strategi-strategi berikut ini:
a.) Strategi seluruh kelas yang meliputi:
1) Ceramah adalah memberikan pengetahuan secara verbal dengan cara guru mempresentasikan sejumlah informasi luas secara efisien, yang berfungsi untuk memberikan pengetahuan dasar yang dibutuhkan untuk aktivitas-aktivitas mendatang, mempresentasikan suatu pengetahuan penting bagi siswa untuk dipelajari
2) Diskusi, memfokuskan pada interaksi, yang mana siswa sebagai partisipan dipersilahkan mengekspresikan pengetahuan dan pemahaman serta opini/pendapat tentang suatu topik.
3) Debat adalah strategi yang menghendaki berpikir lebih tingkat tinggi, yang mana siswa mempelajari informasi tentang suatu isu atau ide dengan mengambil posisi pro atau kontra. Sehingga siswa harus belajar mendengarkan, memanipulasi pengetahuan untuk menarik baik kebutuhan-kebutuhan faktual maupun emosional pada audience-nya.
4) Demonstrasi guru merupakan strategi guru menempatkan perannya untuk memberikan pengetahuan atau keterampilan dengan mendemonstrasikan suatu metode. Strategi ini dipilih karena keterbatasan waktu dan kelangkaan bahan yang diperlukan.
5) Memberikan pengarahan-pengarahan adalah memberikan informasi yang efisien tentang apa, mengapa, bagaimana, dimana, kapan tugas dan aktivitas kelas.

b.) Strategi-strategi kelompok kecil yang meliputi:
1) Pembelajaran kooperatif adalah formasi kelompok yang ”menshare” suatu pembelajaran yang sama, bekerja independen untuk mencapai suatu penguasaan, dan memastikan bahwa semua anggota kelompok dapat meraih tujuan kelompok secara sukses
2) Pembelajararan kolaboratif adalah pembelajaran yang menghendaki para siswa bekerja bersama tetapi hasilnya lebih terbuka pada umumnya. Responsibilitas individual bagi pembelajaran ini lebih besar ketimbang dalam situasi kooperatif.

c.) Strategi pembelajaran dengan bekerja berpasangan, dengan membentuk:
1) Mentor-mentor siswa yaitu membentuk pasangan-pasangan siswa dengan keterampilan yang tak sama, dengan menempatkan salah satu siswa yang sudah siap untuk mentutor teman pasangan .
2) Berpasangan secara random (acak) digunakan dalam suatu basis jangka pendek sebab hanya berpikir sejenak, untuk memenuhi kebutuhan siswa atau memenuhi tuntutan tugas .

d.) Strategi pembelajaran dengan bekerja secara individu
Yaitu strategi dengan bekerja secara independen oleh siswa dalam mempelajari keterampilan atau pengetahuan dan mepraktikkan serta memastikan tingkat pemahamannya Guru harus cerdas memilih dan menggunakan metode pembelajaran atau dengan mengkombinasikan dari beberapa metode yang sesuai dengan kondisi yang ada.
c. Penerapan strategi berupa pendekatan dalam manajemen kelas.
Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian berikut:
1. Pendekatan Kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada siswa untuk mentaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itu guru mendekatinya.
2. Pendekatan Ancaman
Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku siswa dilakukan dengan cara memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
3. Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan diartikan secara suatu proses untuk membantu siswa agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan siswa.
4. Pendekatan Resep
Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.
5. Pendekatan Pengajaran
Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku siswa, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku siswa yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.
6. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku siswa. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku siswa yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (behavior modification approach) ini bertolak dari sudut pandangan psikologi behavioral. Program atau kegiatan yang yang mengakibatkan timbulnya tingkah laku yang kurang baik, harus diusahakan menghindarinya sebagai penguatan negatif yang pada suatu saat akan hilang dari tingkah laku siswa atau guru yang menjadi anggota kelasnya. Untuk itu, menurut pendekatan tingkah laku yang baik atau positif harus dirangsang dengan memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan senang atau puas. Sebaliknya, tingkah laku yang kurang baik dalam melaksanakan program kelas diberi sanksi atau hukuman yang akan menimbulkan perasaan tidak puas dan pada gilirannya tingkah laku tersebut akan dihindari.
7. Pendekatan Sosio-Emosional
Pendekatan sosio-emosional akan tercapai secarta maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dan siswa serta hubungan antar siswa. Didalam hal ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut. Oleh karena itu seharusnya guru mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi di kelas. Untuk terciptanya hubungan guru dengan siswa yang positif, sikap mengerti dan sikap ngayomi atau sikap melindungi.
8. Pendekatan Kerja Kelompok
Dalam pendekatan ini, peran guru adalah mendorong perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolaan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok yang produktif, dan selain itu guru harus pula dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik. Untuk menjaga kondisi kelas tersebut guru harus dapat mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan.
9. Pendekatan Elektis atau Pluralistik
Pendekatan elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreatifitas, dan inisiatif wali atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengkombinasikan dan atau ketiga pendekatan tersebut. Pendekatan elektis disebut juga pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan efisien. Guru memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan selama maksud dan penggunaannnya untuk pengelolaan kelas disini adalah suatu set (rumpun) kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien.

DAFTAR RUJUKAN
Ametembun, N.A. 2004. Sistem Manajemen Kelas-Kelas Modern Jilid II – Manajemen PerilakuMurid. Bandung: Suri
Majid, Abdul. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Remeja Rosdakarya.
Fathurrohman, Pupuh dan M. Sobry Sutikno. 2007. Strategi Belajar Mengajar . Bandung: PT. Refika Aditama
Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: